|
Dua Badai
Oleh: Prakoso Bhairawa Putera S
“Aku harus melaut !” gumam sosok setengah baya dari tepi pesisir. Matanya kemudian memandang ke langit malam.
“Langit mulai dipenuhi awan hitam, bintang pun tak banyak berkerlipan tapi aku harus tetap melaut !”
Angin malam berhembus meniup dedauanan nyiur dan perlahan perahu Baharman lepas dari bibir pantai. Ombak mulai menyambut perahu miliknya. Perlahan suara dari mesin motor perahu tak terdengar lagi seiring dengan perahu yang semakin jauh meninggalkan pesisir.
Pekerjaan seperti ini terkadang menjadi aktivitas sampingan Baharman disela-sela rutinitasnya sebagai seorang kuli kapur sekolah menengah di perkampungan nelayan. Hujan, badai dan angin kencang terkadang datang. Namun, bagi diri Baharman itu semua teman baginya sehingga tidak pernah ada kata mengeluh. Ia rela ketika pagi harus datang ke sekolah dan mengajarkan anak didiknya sesuai dengan tuntutan profesi seorang guru dan apabila besoknya tidak ada jam mengajar, malam harinya ia melaut. Semua dilakukan untuk menghidupkan istri dan anak-anaknya ditambah lagi tanggung jawab sebagai seorang kakak untuk membiayai kedua adiknya yang masih sekolah.
Adik Baharman bernama Aminah kini sudah hampir jadi sarjana, sedangkan yang satunya baru memasuki semester empat di universitas negeri di pulau Jawa. Anak-anak Baharman masih kecil-kecil. Anak pertamanya baru duduk di kelas enam SD, yang bungsu baru berumur lima tahun tanggal tiga pulah nanti. Istri Baharman tidak pernah menuntut ini itu dari suaminya, ia pamah betul akan kondisi, sehingga ia rela membuka warung yang menjual makanan dan jajanan di SD tempat anaknya sekolah. Bila keluarga Baharman berharap pada gaji tentu itu tidak mungkin terpenuhi walaupun kabarnya gaji guru naik. Oleh karena itulah Baharman melaut untuk menambah penghasilannya.
Baharman bukanlah tipe orang menyia-yiakan kepercayaan dan tugas yang telah diberikan kepadanya. Kalaupun ia melaut, itu pasti dilakukan apabila pada esoknya ia tidak mempunyai jam mengajar di sekolah. Walau banyak juga teman seprofesi dengannya yang telah menjadi pegawai negeri kadang-kadang meninggalkan tugas mengajar demi pekerjaan sampingan dengan membiarkan anak didiknya mencatat ataupun mengerjakan tugas yang ia berikan. Tapi baharman tak pernah melakukan hal tersebut. Sebab ia sadar bahwa kehadirannya untuk membesarkan orang dengan segala kerelaan.
Suara mesin terhenti. Perahu Baharman kini terombang-ambing di tengah laut. Di tengah laut baharman sudah berubah status, kini ia bukan guru bagi anak didiknya tapi Baharman adalah nelayan yang siap dengan kepahitan laut. Sesaat kemudian ia mulai menjalankan aktivitas sebagai nelayan. Dengan rasa penat bercampur dingin malam, Baharman menyulut sebatang rokok. Sembari menatap langit yang makin kelam, Baharman menhempaskan asap rokok itu dengan kuat-kuat ke atas. Angin tampak memainkan asap yang terombang-ambing lalu asap itu buyar.
Selang beberapa menit Baharman terkejut, dari kejauhan tampak sebuah kapal melaju ke arahnya. Kapal itu bukan seperti kapal-kapal nelayan pesisir milik juragan Abu yang sering ia temui saat melaut. Meski malam sangat gelap tapi mata Baharman tidak mungkin salah melihat.
“Itu kapal nelayan asing, yah itu pasti kapal nelayan asing yang selalu dibicarakan rekan-rekan nelayan” yakin Baharman.
Selama beberapa tahun ia melaut baru kali ini Baharman melihat kapal nelayan asing secara nyata-nyata berkeliaran di perairan laut selatan pulaunya. Kini baharman percaya akan berita di Koran dan pembicaraan rekan-rekannya sesama nelayan tentang aktivitas pencurian ikan oleh nelayan asing. Baharman mulai ketakutan, karena menurut kabar angin siapa saja yang bertemu dengan nelayan asing saat melaut pasti akan ditangkap dan dibunuh oleh para awak kapalnya.
“Tidak,…tidak. Itu hanya kabar angin saja, mereka tidak mungkin sekejam itu” kata Baharman meyakinkan diri. Namun kapal nelayan berbendera ganda itu semakin nampak dan mendekat ke arahnya. Dengan sigap Baharman menghidupkan mesin motor perahu.
“Ayo,… cepat. Aku tidak mau jadi korban dan bahan pemberitaan di koran-koran lokal !”
Baharman mulai panik tatkala mesin motor perahunya belum juga berfungsi, sementara itu langit makin hitam pekat. Bintang yang tadinya hanya beberapa berkerlipan kini tidak ada sama sekali yang nampak. Awan hitam kian tebal, air laut pun kelihtannya sudah mulai meninggi memainkan gelombang. Biasanya sebentar lagi badai akan datang. Akan tetapi, Baharman tak mempedulikan semua itu.
“Badai sudah sering aku temui tapi dengan kapal nelayan asing baru kali ini” Baharman kembali mencoba menghidupkan mesin motor perahu.
“Alhamdulillah, akhirnya” Baharman langsung melarikan perahu menjauh dari kapal nelayan asing itu.
“Aku tidak mau jadi korban. Bukankah aku punya anak istri yang masih harus aku nafkafi, aku juga ingin mendampingi adikku Aminah ketika wisuda nanti dan bagaiman nasib anak didikku kalau aku tidak ada ?”
Otak Baharman kini dipenuhi pertanyaan, pikirannya mulai melayang entah kemana. Baharman ingat akan janjinya pad mendiang kedua orang tuannya untuk membiayai Aminah dan Amir hingga selesai kuliah dan ingin ia masukkan adiknya Aminah menjadi pegawai negeri, karena sejak menjadi propinsi baru daerahnya dalam pemekaran wilayah dan pembenahan yang tentunya sangat membutuhkan banyak pegawai baru. Tapi, kemarin ia mendengar pembicaraan rekan-rekan guru kalau melamar ke sana mesti siap pelicin yang jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung.
“Kemana aku mencari uang untuk pelicin ?” Baharman berpikir, padahal sekarang zaman sudah berubah, tapi budaya suap masih saja merajalela. Kalau saja aku anggota dewan mungkin aku segera menyetujui usulan agar gaji pegawai dinaikkan seratus persen . Tapi yang paling penting naik menurutnya adalah gaji guru seperti dirinya, karena ditangan para gurulah maju-mundurnya generasi bangsa. Kalau gaji guru sudah naik, mungkin tidak perlu lagi melaut.
Pikiran Baharman terus melayang tak tentu arah, teringat olehnya usulan orang-orang di pelelangan untuk berdemostrasi di gedung dewan menuntut penangkapan dan pembersihan perairan laut pulaunya dari kapal-kapal nelayan asing yang sangat meresahkan.
Baharman tak menyadari kalau sekarang ia telah keluar dari perairan tempat biasanya ia melaut, sementara kapal nelayan asing masih saja memburunya di belakang. Tiba-tiba saat itu hujan lebat berderai, petir pun berdentuman menyambut kilat yang membelah kelam malam.
“Astaghfirullah !”
Baharman menjaga keseimbangan perahu. Gelombang besar datang silih berganti, kapal nelayan asing yang sedari tadi memburunya sudah semakin dekat.
“Dor… dor” suara tembakan dari arah kapal nelayan asing.
Baharman terus menjaga keseimbangan perahu hingga akhirnya…..
“DOR….” Sebuah peluru mengenai tubuh Baharman, ia pun tak kuasa menjaga kesimbangan hingga perahunya terbalik bersama datangnya gelombang besar. Tubuh Baharman terapung-apung di permukaan, cukup lama ia menahan rasa sakit dan dingin “Aku bisa kalah juga” akhirnya Baharman tenggelam bersama peliknya semua romantika hidup yang dijalani.
Sementara itu gelombang kian bertepuk meramaikan petir dan kilat yang saling menyambar di cakrawala
*****
“Koran… Koran, Baharman jadi korban nelayan asing”
“Koran, yang hangat… yang hangat dari seorang guru sekolah menengah jadi korban nelayan asing saat melaut”
Tentang Penulis:
Prakoso Bhairawa Putera S, lahir di Tanjung Pandan, 11 mei 1984. Setelah menamatkan pendidikan di SMU 2 Sungailiat (2002), ia melanjutkan studi pada jurusan Ilmu Administrasi Negara FISIP – Universitas Sriwijaya (Palembang).
Kegemarannya menulis sejak SMP telah membawanya dalam usia relatif muda dapat menjadi juara pada berbagai kompetisi menulis baik bidang ilmiah maupun sastra dari tingkat provinsi sampai nasional. Mantan wartawan pelajar “AkSes” Bangka Pos Group ini, karya-karyanya berupa puisi, cerita pendek, esai, artikel dan dongeng dimuat pada Suara Karya, Annida, Bangka Pos, Sriwijaya Post, Sumatera Ekspres, Transparan, Tabloid Anak Hoplaa serta tersebar diinternet.
Selain itu ia juga aktif pada Lembaga Pers Mahasiswa dan bertindak sebagai Redaktur Pelaksana pada Tabloid Mahasiswa “Indralaya Post” Universitas Sriwijaya dan tergabung dalam Komunitas Pekerja Sastra Pulau Bangka (KPSPB) serta Forum Lingkar Pena (Koordinator Bangka-Belitung)
|