|
Meratapi (Ulang) Pendidikan Kita Agusmantono* Menjelang berakhirnya 100 hari pertama permerintahan SBY adalah waktu yang tepat untuk mulai meratapi (ulang) pendidikan kita. Betapa tidak, sampai sekarang belum ada terlihat langkah konkrit yang diambil presiden SBY untuk membenahi pendidikan kita yang terpuruk ini. Bahkan tercatat SBY baru bicara soal pendidikan hanya satu kali saja, yakni pada peringatan hari guru, 3 Desember tahun lalu. Padahal persoalan pendidikan Menurut laporan tahunan Human Development Index UNDP, Berbicara rendahnya mutu pendidikan mau tidak mau kita pun harus berbicara tentang mutu guru. Bagaimana pun juga guru adalah pemegang kendali penting. Namun kita kembali harus menahan nafas, sebab mutu guru kita juga sangat memprihatinkan. Hasil penelitian Balitbang Depdiknas memperlihatkan nilai rata-rata tes calon guru PNS di SD, SLTP, SLTA, dan SMK tahun 1998-1999 untuk bidang studi matematika hanya menguasai 27,67 persen dari materi yang seharusnya. Sementara itu untuk bidang studi yang lain adalah Fisika (27,35), Biologi (44,96), Kimia (43,55), dan Bahasa Inggris (37,57). Angka-angka ini tentu sangat jauh dari batas ideal, yaitu minimal 75 persen agar seorang guru dapat mengajar dengan baik. Dapat dibayangkan bagaimana mutu anak didik para guru itu nanti. Apalagi menurut penelitian Konsorsium Ilmu Pendidikan (2000), 40 persen guru SMP dan 33 persen guru SMA mengajar bidang studi di luar bidang keahliannya. Materi bidang studinya sendiri saja belum dikuasai, apalagi di luar bidang studinya? Rendahnya gaji guru juga membuat mereka tidak konsentrasi penuh pada tugasnya. Tak heran jika sejak dahulu kala para guru kita sudah kreatif mencari tambahan, yakni Nyambi ojekan, menarik uang les privat, menjual buku-buku pelajaran, sampai jual makanan ke sekolah. Guru terpaksa berbuat seperti itu demi mengepulnya asap dapur mereka. Tidak salah memang, kesejahteraan guru Rendahnya mutu dan tidak penuhnya konsentrasi guru di sekolah akan menghasilkan anak didik yang bermasalah pula. Karena tidak dapat perhatian penuh, mereka, kalau tidak lebih sibuk les privat di luar sekolah akan sibuk tawuran, narkoba, pergaulan bebas dan permasalahan krusial lainnya. Belum lagi dari sisi luar mereka memang digempur oleh perang peradaban (westernisasi) yang membuat moral mereka semakin bobrok. Sementara di sisi lain sekolah semakin membosankan karena guru sering telat, tidak masuk, dan tidak serius mengajar. Akhirnya guru tak lagi jadi sosok yang dihormati. Kasus guru dipukul siswa sudah bukan berita baru lagi. Produk pendidikan seperti inilah yang nanti akan menggantikan sosok guru yang sekarang. Merekalah yang akan menjadi guru bagi generasi yang akan datang, sebagaimana guru sekarang adalah produk pendidikan di masa lalu. Adakah kemungkinan guru di masa datang akan lebih baik dari sekarang? Sekolah Tidak Diperlukan Lagi? Mungkin karena kekecewaan terhadap mutu pendidikan, akhir-akhir ini kita semakin sering saja menjumpai kalangan yang pesimis dan bahkan cenderung anti terhadap sekolah. Sebut saja nama Andrias Harefa, tokoh antisekolah yang menawarkan model Manusia Pembelajar, yang tidak membutuhkan institusi khusus –terutama sekolah—untuk belajar. Andrias Harefa adalah orang yang kecewa terhadap pendidikan kita, yang alih-alih menjadi ajang anak untuk berkembang malah menjadi institusi pengebiri kreatifitas. Benar memang, minimnya kualitas guru dan rendahnya anggaran pendidikan membuat sekolah sulit untuk berkembang. Maka tak heran jika sekolah hanya menjadi tempat guru untuk menyebutkan apa-apa yang ia tahu, untuk kemudian harus dihapal oleh murid lantas ditulis ulang pada lembar jawaban saat ujian. Tak lebih dari itu. Tak ada kreatiftas, tak ada kecakapan hidup yang dicapai selain kecakapan menghapal, dan tentu saja tidak mengikuti perkembangan zaman. Belum lagi masalah kurikulum kita yang memang memaksa anak untuk tidak bisa berkembang. Tipe kercerdasan yang dikembangkan di sekolah hanyalah kercerdasan lingusitic dan logis-matematis. Padahal menurut Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind, ada Di luar negeri sono juga banyak orang yang kecewa terhadap pendidikan. Sebut saja Robert Tiyosaki yang menulis buku If You Want to be Rich and Happy, Don’t Go to School yang sangat populer itu. Di Kurikulum Berbasis Kompetensi? Menggantikan kurkulum 1994, pemerintah mengeluarkan kurikulum baru bernama Kurikum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum ini lebih menekankan pada penguasaan pengetahuan dan kecakapan hidup lulusan suatu jenjang pendidikan. Konon katanya lebih fleksibel dan sesuai dengan perkembangan zaman. Jika melihat kemampuan yang sedemikian terbatas guru-guru seperti yang telah diungkapkan di atas, kita kemudian pantas mengkhawatirkan keberhasilan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) ini. Bukankah kurikulum tersebut sangat menuntut kreativitas dan kemampuan bereksperimen, serta kemampuan guru mengembangkan diri selaras perkembangan zaman? Dengan masalah-masalah yang dihadapi guru kita, apa yang akan mereka kreasikan? Bagaimana mungkin mereka bisa mengembangkan diri dengan banyak membaca buku atau browsing internet, sementara untuk kebutuhan primer saja gaji mereka tidak cukup. Maka tak perlu heran jika saat ini banyak para guru yang mengartikan KBK sebagai Kurikulum Banyak Kerja. Ya, kurikulum baru itu dirasakan memang banyak kerja. Apalagi guru-guru kita telah lama ‘banyak kerja’ di luar pekerjaannya, guna mencari tambahan gaji mereka yang sangat tidak seberapa. Pembenahan Pendidikan, Segera! Melihat kompleksitas permasalahan pendidikan kita, mau tidak mau pemerintah harus segera mengambil langkah untuk mengantisipasi. Harus segera diambil langkah revolusioner, kalau tidak ingin pendidikan kita bangkrut dan ditinggalkan. Namun sampai sekarang belum ada itikad baik pemerintah untuk menangani masalah ini. Amanat amandemen keempat UUD '45 pasal 31 yang menyatakan bahwa dana pendidikan Janji SBY pada peringatan hari guru untuk membenahi pendidikan masih ditunggu-tunggu pembuktiannya. Mungkin pemerintah memang masih sibuk mengurusi soal Aceh, namun bagaimana pun juga masalah pendidikan kita juga tidak kalah penting dan tidak boleh diabaikan. Bukankah pendidikan adalah pilar utama kemajuan suatu bangsa? Jangan biarkan semakin banyak saja orang yang kecewa terhadap pendidikan! Jika pendidikan masih belum diperhatikan secara serius, maka kita wajib bersiap-siap meratapi kematiannya. * Penulis adalah pemerhati pendidikan aktifis UKM P3M Unib dan FLP Bengkulu. Mahasiswa Pendidkan Bhs. Inggris FKIP Unib Smt. VI
Bengkulu, 20 Januari 2004 |
| yourshop.cc December 4, 2008 01:37 PM PST http://www.watchesforsale.us | ||
| Firman March 26, 2005 12:14 PM PST Wah, korbannya Kiyosaki, Andreas HArefa dll. tapi beneran lho, apa yang ditulis oleh sdr agus nih bener-bener betul! :-) tapi kok baru dimasukin sekarang. dah telat tau, soalnya kan u/ menjelang 100 hari sby keamren. sekarnag menjelang ke berapa ratus ya? salam to agus | ||
| Leave a Comment: |