Suskeskan Muswil, FLP Expo, Lomba-lomba + UPGRADING Penulis FLP Se-Sumatera di Bengkulu, Mei 2005


|Isi Buku Tamu| |Baca Buku Tamu| |Karya dan Komentar Pakar| |Profil Penulis||Agenda||Arsip Tulisan|




Monday, December 05, 2005
Pada Gerimis Satu-satu (Cerpen Elzamzami)

Pada Gerimis Satu-satu

Elzam Zami*)

Publikasi : Rakyat Bengkulu, 28 November 2004

 

Padanya aku menghamparkan persahabatan yang unik. Eve selalu hadir mengisi jenak-jenak waktu yang kucoba rangkai menjadi jauh lebih indah. Dan ternyata itu memang berhasil. Meskipun harus kuakui ada beberapa nama perempuan lain yang hadir mengisi memori sepanjang masa di belakangku kemarin.

“Persahabatan kita adalah konsep saling memberi manfaat dalam kebaikan” kata Evie ketika awal persahabatan kami di mulai. Aku lebih menyukai menyebutnya Eve --dengan menghilangkan huruf i-- lebih dekat kepada sebutan Hawa pada orang Barat. Namun bukan berarti aku mencintainya karena namaku Adam sehingga aku menganggapnya pasangan seperti Nabi Adam kepada Siti Hawa.

Aku pernah bertanya padanya, “Kau tahu Eve, kenapa aku menyukai bergaul denganmu?” Dia hanya mengangkat bahunya sembari menyeruput segelas es jeruk.

“Kamu orangnya asyik banget menempatkan sahabat pada posisi yang terhormat. Bersamamu aku merasa dimanusiawikan dengan sikapmu…”

“Hmm…Adam, Adam! Selagi kita ingin menikmati pertemanan, mengapa kita tidak memenuhi keinginan hati kita yang jujur untuk bersikap alamiah pada orang lain? Bukankah kebaikan itu alamiah? Banyak juga yang menyebut fitrah manusia adalah mencintai kebaikan,” Jawab Eve yang membuat aku kian kagum pada sosoknya.

“Oo, begitu ya? Sampai kau menjelma menjadi perempuan yang berkepribadian seperti Putri Abu dalam dongeng. Maaf, itu bukan berarti aku mengharapkan kau mendapat kemalangan seperti Putri tersebut. Kebaikanmu yang sama dengan kebaikan tulus putri yang malang itu.”

“Jangan memujiku berlebihan, friend. Aku Cuma Evie yang bersahabat padamu bukan karena latar belakang tertentu. Naluriku mengatakan persahabatan itu lumrah dan menyenangkan.” Jawab Eve santai. Sesantai penampilannya yang selalu sederhana. Ia tak pernah kulihat berdandan modis seperti kebanyakan perempuan. Padahal ia punya cukup uang untuk mempermak penampilannya agar menarik dan lebih wah. Seperti saat ini jeans yang ia kenakan hanya dipadu dengan kemeja gombrong bergaris kotak-kotak.

          “Padahal aku punya teman dekat sebagai pacar. Tapi kedekatan kita sepertinya melebihi hubungan aku dengan Raisya!” ungkapku meryebut nama pacarku yang terbaru. Aku memang punya seorang saja sahabat dalam artian seperti persahabatanku dengan Eve. Berbeda dengan kekasih, ada beberapa banyak gadis yang memiliki hubungan denganku yang kata orang “cinta”.

“Ah, bedakanlah kedekatan kita dengan kedekatan bersama gadis-gadismu. Kupikir ada nilai yang jauh berbeda ketimbang hubungan antar kekasih. Entahlah…aku masih terus memikirkannya Adam.”

“Ya, pikiranku bingung mengapa persahabatan kita lebih awet daripada ikatanku dengan mereka. Pacar-pacarku yang seabrek-abrek itu.” Aku tertawa akan kekonyolanku.

Eve menjawab retoris, “Apakah itu berarti hubungan persahabatan kita tidak boleh lebih baik dari hubungan sepasang kekasih?” Aku terhenyak! Betul juga katanya.

Begitulah, ditengah kesibukan bermain cinta dengan beragam gadis yang biasanya tak bertahan lama. Persahabatanku dengan Eve kian bersinar terang memberi ruang segar untuk membagi kata, riang, gundah , dan emosi lain pada sosok manusia lain di luar diriku sendiri.

* * *

Namun tiba-tiba pada gerimis satu-satu yang turun ke bumi, saat matahari bersinar terik di siang hari, Eve berubah. Ia menggugat hebat konsep yang selama ini kami pertahankan.

Ini pertemuan kami yang pertama kali di bulan November yang telah memasuki akhir bulan. Aku memang mengurangi jadwalku sekedar berbincang dengan Eve. Tidak ada alasan apa-apa yang melatarbelakangiku berbuat demikian. Aku cuma ingin demikian saja. Lagipula bulan ini aku bolak-balik menyelesaikan penelitian skripsiku di sebuah desa tertinggal. Praktis waktuku tersita kesana. Selebihnya aku mengunjungi Raisya. Perempuan yang kucoba dekati dengan lebih intensif lagi. Cewek itu sulit sekali ditaklukkan ternyata. Namun, ketika aku menemuinya serta merta ia mendepakku. Sambutan yang tak seperti biasanya.

“Eve, apa yang baru kau ucapkan tadi? Kau…?! Apakah kau dalam keadaan baik-baik?” aku bertanya sangsi. Mengapa tiba-tiba ia mendamprat semua perilakuku justru pada saat ini. Tidak ketika dulu-dulu, karena ia mengenalku sudah jauh sekali.

“Kau telah berlaku kurang ajar pada gadis-gadismu” Ia menjustifikasi kesalahanku dengan enaknya.

“Ha! Kurang ajar?! Apa yang telah kulakukan pada pacar-pacarku? Sekedar berbincang, jalan bareng, nonton,  merayu, mengelusnya dan…” Aku mencoba membela dengan tegas. “Dan bukankah itu wajar mewakili cinta pada kekasih” tambahku menjelaskan.

“Ya! Wajar katamu. Dan  karena cinta sempitmu itu kau sampai melupakan sahabatmu. Dimanakah kau saat aku ingin cerita ketika aku sedih kehilangan Ayah? Dimanakah kau ketika aku ingin membagi kebahagiaan ketika syukuran wisudaku? Dimanakah Cinta untukku? Dimana???”

Ha! Sedemikian banyakkah moment penting Eve yang ia lewati sampai aku tak memperdulikannya. Tapi apa yang ia katakan terakhir tadi? Cinta?

“Eve…” potongku cepat. Tidak mengerti. “Apa-apaan ini! Okey, aku mengaku salah karena tidak pernah menghubungimu akhir-akhir ini. Aku bersalah karena terlalu sibuk dengan Raisya pacar baruku. Tapi apa yang kau ungkapkan terakhir tadi?”

 Aku menghela nafas. Berat sekali bagiku mengutarakannya. Takut ia lebih tersinggung dan melukai hatinya. Jujur aku tidak pernah merasa ia memperlakukanku kasar hingga tersinggung dan sakit hati. Tapi kenapa mesti ada rasa itu Eve? Berontakku dalam hati.

 “Kenapa kau mengharapkan cintaku, Eve…?! Seorang Adam yang merupakan sahabatmu.” Lepas sudah kata yang mewakili kepenasaranku.

Suasana cuaca yang tidak bersahabat meningkahi pertengkaran kami. Hujan gerimis bak jarum yang meluncur berpendar di bumi. Sementara matahari bersinar terik. Perpaduan panas dan dingin yang menimbulkan sensasi pening, apalagi ditambah  keadaan hati kami.

“Huh! Begitu sempit ternyata kau memandang cinta, seperti kataku tadi. Baru kusadari cinta memang tak pernah ada pada sosokmu Adam!” Eve menjelma menjadi sosok yang membingungkan, kalau tidak boleh kukatakan menyebalkan. Benar-benar!

Aku mencoba menjelaskannya lagi dengan lebih tenang, “Aku tidak mungkin menjadi kekasihmu, Eve. Aku menyukaimu, tapi bukan berarti aku…”

“Ya, ya…! Tidak mungkin menjadi kekasihmu. Pelampiasan cinta yang dalam benakmu hanya ada kamus cinta busuk! Cinta nafsu.” Ia segera beranjak dari tempat duduk dan membayar minuman yang tadi kami pesan. Aku tak bermaksud mencegahnya. Biarlah kemarahannya mengendap.

Dikejauhan pandangan mataku terus lurus. Gadis yang sebenarnya teramat baik itu menerobos alam terbuka. Pada gerimis satu-satu…

* * *

Dalam derai sunyi ini aku mengungkap diri. Pada sepi malam yang mungkin mampu memberiku masukan bagaimana harus berbuat untuk seorang Eve. Potongan hatinya telah kulihat di sini berkeping-keping. Dan Eve berpikir itu semua karena perbuatanku. Aku telah membuat ia rapuh dan berderai dalam keping-keping marah.

Eve, sesungguhnya aku masih ingin menikmati hubungan kita seperti dulu lagi. Aku akan kembali menata komitmen ideologi persahabatan kita. Aku memang terlalu acuh pada konsep “memberi mamfaat dalam kebaikan untuk sebuah persahabatan.”

Pada pacar-pacarku yang daftarnya berderet-deret aku mampu meninggalkan mereka. Meski setiap berakhirnya hubungan lebih di dominasi perpecahan hati. Cinta selalu meninggalkan luka, benci, dan mungkin dendam ketika berakhir miris pada setiap gadisku. Tapi itu wajarkan menurutku. Mereka tak berhak menuntut apa yang telah kami lakukan dan terukir kala cinta masih indah. Karena cinta sepasang kekasih ternyata juga seperti waktu, selalu berubah. Egois memang!

Namun untukmu Eve! Aku tidak ingin semuanya berakhir negatif. Tidak juga luka dihatimu, luka dihatiku. Karena memang hubungan ini murni dalam kebaikan. Hubungan ini jujur memberikan banyak kebaikan tak terukur. Sama sekali berbeda dengan hubunganku dengan Naura misalnya, kadangkala kusisipkan sesuatu untuknya.   Ya! Sesuatu yang membuat aku berpikir saat ini. Kata apa yang harus mewakilinya. Oh! Eve…aku bergidik ngeri! Aku menyisipkan nafsu untuk legalitas cinta. Kata yang tepat, benar apa yang kau tuduhkan waktu siang gerimis itu.

Malam ini aku tak bisa memejamkan mata. Ada Kecamuk gundah yang harus terungkap lepas. Jika kondisi seperti ini, biasanya memang Evelah yang kuajak bicara. Ia akan mendengarkan dengan tenang. Memberikan komentar dengan konsep filosofisnya yang kadang kupikir susah diaplikasikan. Tapi aku selalu suka dan menyimak kata demi kata dari bibirnya. Apakah pertengkaran tadi siang adalah salah satu konsepnya yang memang tak bisa kuterjemahkan itu. Entahlah!

Aku telah ada dihadapan Eve. Sengaja aku datang untuk mengungkapkan apa yang kurenungkan tadi malam.

“Ya, begitulah Eve…mungkin ada yang salah dalam aku menempatkan cinta” aku menutup uraian renunganku. Persis seperti apa yang terpikir padaku malam tadi.

Eve menatapku lembut, “Apa yang kau ketahui tentang cinta?”

“Seperti yang kau lihat praktiknya selama ini pada hidupku.”

“Apa salah aku mencintaimu? Apakah cinta harus terkekang pada definisi hubungan antar lawan jenis yang selalu kita ikat dengan kata pacaran atau pernikahan?” kejarnya bertubi-tubi. Kalimat itu tajam, meski aku tahu Eve tidak lagi marah.

“Eve…! Please deh, jangan membuatku bingung.”

“Cinta adalah kata yang universal. Tidak hanya satu untuk diambil alih paksa  istilahnya pada hubungan cinta Adam pada Naura, cinta Adam pada Raisya, atau cinta yang sah sekalipun, cinta suami pada isteri” ia mulai mengurai konsep. Aku mencoba menterjemahkannya dengan sederhana di benakku.

“Kalau kau menempatkan cinta selama ini dimana? Mana cinta untuk sesama yang mesti kau bagi, padaku sebagai saudara plus sahabat. Pada kepapaan yang selalu tampak di lingkungan kita. Dan satu lagi Adam! Kau percaya pada Tuhan?”

“Ya, kenapa tidak?”

“Mana cintamu pada denting transendental. Sesejatinya cinta adalah pada Tuhan yang berlapis ganda cinta horison an-nas, manusia. Maaf aku mengatakan ini, karena aku juga sedang memaknai cinta ini” ujarnya.

Oh god! Sejauh itu? Mungkin kau benar Eve, kata-katamu memang benar-benar tepat. Apakah aku memperdulikankan cinta Tuhan saat bercinta dengan pacar-pacarku? Bahkan aku telah melupakan cinta sesama saudara (seperti halnya cinta kita Eve) ketika asyik pada kekasihku. Ahh….kau benar Eve!

“Cinta kekasih…” aku menggumam datar. Eve mendengarnya.

“KE KA SIH, menurutku ungkapan itu tidak hanya bisa kita sandangkan pada manusia. Bagaimana dengan kekasih kita yang maha mengasihi? Berarti Allah adalah kekasih kita. Bagaimana ini, Adam?” Eve bingung terjebak pada logika kata-kata.

Aneh! Tiba-tiba aku ingin mengatakan, “Ya, begitulah Eve. Pada ketenangan hati kita harus mengakui, jika ia bergejolak gundah turuti saja inginnya yang jujur, aku akan coba menata cinta proporsional ini?”

Dan Eve makin bingung muara cinta yang kami perdebatkan sampai pada puncak yang terkesan hakiki.

Sedetik kemudian Eve mengangguk tulus, ramah, “Dan jangan kau katakan cintaku padamu karena aku ingin menjadi kekasihmu.” Gadis itu mengubah perspektif cintaku.

* * *

Lama aku tak mengetahui kabar berita dari Eve. Terakhir suratnya menghampiriku dua bulan yang lalu. Katanya jika kami jarang berkomunikasi bukan berarti hubungan persahabatan putus. Ia selalu mengingat dan berdo’a untukku. Saat ini ia sedang mendalami apa itu cinta yang hakiki di pesantren. Tempat yang menurut Eve tepat untuk mengupas habis cinta yang selama ini dicari.

Eve, bagaimanakah penampilanmu sekarang? Bagaimanakah pandangan-pandanganmu sekarang? Suatu saat kita akan bertemu lagi kan, Eve? Tanyaku pada diri sendiri.

Ternyata gerimis bercampur terik matahari tak hanya meninggalkan sensasi pening. Keadaan cuaca siang kala perdebatan itu terjadi.  Pada gerimis satu-satu aku berterimakasih…

 

*) Penulis kelahiran Curup, 26 Nopember 1981. Mahasiswa Adiministrasi Negara Angkatan 2000 FSIP Unib. Karyanya juga terbuat dalam Antologi FLP Sumbagsel “ Ketika Nyamuk Bicara” Zikrul Hakim-Jakarta, 2004. Pemenang II LMCPI 7 Annida 2005


Posted at Monday, December 05, 2005 by flpbengkulu
Beri KOment  

Friday, July 01, 2005
Siska punya cerpen

                                                Rahasia  Seorang Jean                  

Sisk@_Rusm@n

 

            Gadis itu menghentikan pena, sejenak melirik ke jam dinding kamarnya.  Puih! sudah hampir pertengahan malam.  Tapi tugas Bahasa dan sastra membuat cerita pendek dari Ibu Mufidah belum juga rampung dikerjakannya.                                                                   Otaknya sudah diambang kejenuhan.  Akan jadi apa cerita ini? Seakan pasrah ia pun merebahkan tubuh ke atas dipan. Peristiwa yang menimpa orang-orang yang dikenalnya beberapa waktu yang lalu membuat kesan tersendiri di hatinya.

                                                                        ***

            “Jean, nanti habis sekolah langsung pulang ya? Mama harus ke rumah tante Mia” Mama berpesan.  Jean yang sedang memakai sepatu hanya mengangguk. 

“Oya, jangan lupa singgah ke toko wak Ali belikan susu untuk Bayu!” Mama menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan. 

Jean menerima uang tersebut dan segera menyimpannya didalam dompet.  Gadis itu segera mencium tangan sang bunda takzim kemudian mencium pipi Bayu yang berada dalam gendongan Mama.  Bocah setahun setengah itu hanya tergelak-gelak ketika ia berhasil menarik kerudung Jean.

“Jangan sampai lupa ya?” sekali lagi Mama mengingatkan sebelum Jean benar-benar melangkah keluar rumah.

            “Ya Ma!” Jean tersenyum sambil melambaikan tangan pada Bayu.

            Jean mengerti jika Mama pergi ke rumah tante Mia Bayu pasti tak ada yang jaga.  Rumah sahabat Mama itu terletak di selatan kota Bengkulu, untuk kesana harus 2 kali ganti angkot yang setidaknya membutuhkan waktu kira-kira 1,5 jam pulang pergi.

Akan terlalu merepotkan jika harus membawa balita sendirian.  Selain itu Mama sungkan sekali dengan kebaikan tante Mia.  Wanita budiman itu selalu saja membekali Mama macam-macam jika Bayu dibawa. 

                                                            ***

            “Jean, tugas Biologi beres?” Cica sudah berdiri di samping bangku Jean.  Wajahnya kusut seperti seragam yang belum disetrika.  Jean mengangguk menatap sahabatnya itu. 

            “Pinjam dong!” Cica menghempaskan tasnya asal.

“Loh? Kamu belum, Ca?” Jean bertanya heran.  Setahunya Cica termasuk yang paling rajin membuat tugas dan yang paling anti nyontek pekerjaan orang lain.

“Ceritanyo kelak, kini pinjam PR dulu!” Cica melirik alba di lengannya.  15 menit lagi bel. Membayangkan wajah angker Pak Sihombing membuat Cica bergidik apalagi jika ingat hukuman yang akan diterimanya. Membuat organ tubuh manusia lengkap!    

            “Tapi, kamu serius kan Ca?” Jean kembali bertanya sebelum buku itu berpindah tangan.  

            No more question honey!” Cica  meraih buku big boss Jean cepat dan langsung menyalin.

                                                                        ***

            “Aldo buek palak aku pening tujuh keliling!” Cica memulai ceritanya di kantin ketika istirahat pertama.  Ditusuknya satu pentol bakso dan menggigitnya.  Wajah putih tun-jang itu makin merah menahan pedas.          

             Jean ingat, Aldo anak abang Abas, kakak kedua Cica yang bekerja sebagai Kapolsek di kota ini.  Keponakan-keponakan Cica memang banyak.  Mereka sering dititipkan di rumahnya jika kebetulan orang tua mereka sedang dinas keluar kota. 

            Ngapo? Jadi baby sitter lagi? Main PS sampai jam berapa?” Kinanti sudah bisa menduga.  Pasalnya keponakan sobatnya yang satu itu meski baru berumur lima tahun maniak Play Station.  Mainnya bisa berjam-jam dan parahnya harus ditemani. 

Cica mengangkat jari telunjuknya menyimbolkan angka satu, “Hebat kan?”  Mimiknya sebel.   

            “Terus?” kejar Jean.

            “Bayangin ya! Jam dua belas malam aku disuruh Bobo-ho itu bikin mie goreng, ayam goreng kentucky dan buat susu!” karena tubuh Aldo yang gendut, putih mirip pemain cilik dari Hongkong Cica lebih suka memanggilnya Bobo ho.

“Aku benar-benar tiada berdaya, ditinggal sebentar dia marah trus nangis, malam-malam denger anak kecil nangis kan pusiiing!” Cica menirukan gaya Peggy. 

            Wajar ajo idak ado pengasuh yang betah, Bobo-ho tu nian banyak kendak!” Lanjut Cica lalu meneguk segelas air putih.

            Jean hanya tersenyum mendengar cerita Cica.  Seusia mereka memang belum sepantasnya disibukkan dengan urusan mengasuh anak yang ribet.  Idealnya ya, belajar saja yang rajin dan mengukir prestasi sebanyak-banyaknya. 

Jean jadi teringat Bayu, bayangan anak itu bermain-main di pelupuk matanya.  Tentu saja untuk hal ini ia amat berbeda dari kedua sahabatnya itu.

                        ***

            Jean baru selesai memandikan Bayu ketika Cica dan Kinanti datang.  Kedua anak itu menunggu di ruang tamu sementara Jean mengambil pakaian Bayu.

            “Tumben sepagi ini udah kelayapan, biasanya kalau libur masih betah di bawah selimut?” Jean menggoda kedua sahabatnya itu sambil membaluri Bayu dengan minyak telon dan bedak baby.

            Kau la cak emak-emak ajo Jean!” Cica tak memperdulikan pertanyaan Jean malah asyik memperhatikan gerakannya.

            Kamu orang tu darimano?” Jean bertanya lagi dengan dialek Bengkulu yang kaku dan sangat lucu terdengar.

            “Tadinya mau ikut senam jantung sehat di lapangan tugu, tapi kesiangan!” jawab Kinanti.

Setiap minggu pagi di lapangan tugu depan kediaman Gubernur memang selalu ada senam jantung sehat yang terbuka untuk umum.

            “Eh, kalau diperhatikan Jean sama Bayu mirip ya?” Tiba-tiba Cica berujar.  Bergantian melihat wajah Jean dan Bayu.  

            “Yaelah Ca, mereka kan memang kakak adik, jelas aja mirip.  Kalau Bayu yang mirip dikau ya itu baru aneh! gimana sih!” Timpal Kinanti. 

 “Bayu lah wangi, siko kek ayuk Kinan!” Kinanti mengambil Bayu dari tangan Jean.  Batita itu terlihat riang ketika ia berpindah tangan.

            “Eh, lucu kali dak? Kalo misalnyo segedang kito la punyo anak?” Kinanti tiba-tiba bertanya dengan polosnya.    

            “Lucu?”  Cica kaget bercampur heran.

            Kinanti terkekeh memamerkan deretan giginya yang yang sedang dikawat. Maklumlah hidup yang “sebatang kara” membuat anak itu lebih menyukai anak kecil ketimbang si bungsu Cica yang lebih sering dibikin pusing keponakan-keponakannya.  Ibu Kinanti hanya bisa menghadirkan dirinya seorang diri ke dunia ini tanpa satupun saudara.    

“Kinan, kalau segedang kito la punyo anak biasonyo accident!”  tambah Cica.

            “Maksud kamu Married by accident alias MBA? Aku gak sepakat ah!” tandas Kinanti cepat.  “Gak semua koq! sepupuku di desa juga nikah muda, tapi tidak MBA, 2 tahun nikah baru punya anak!” Bibir Kinanti maju beberapa senti.

            “Ya, memang tidak semua” jawab Cica cepat. “Contohnya kita bertiga, he..he..!”   

            “Tapi kalau lihat gaya pacaran anak muda sekarang, ya ampun! Horor sekale! Di depan umum aja bisa cuek baybe main kiss en huge! Gimana kalau lagi berduaan!” Kinanti dan Jean tertawa melihat Cica memperaktekkan memeluk dan mencium Bayu.

            “Pantes, pacaran itu gak di legalkan dalam islam, yang punya iman aja bisa runtuh benteng pertahanan dirinya apalagi yang enggak!” Jean buka suara.

            “Cieh! benteng malborough kali! Jean puitis sekalee! Punya pengalaman pribadi ya?” Kinanti melirik genit pada sohibnya itu.  Jean hanya tersenyum tipis.

            “Eh, kalau terlanjur halim perdana kusuma atmaja alias hamil gimana? Apa nikah diperbolehkan?” Kinanti bertanya.                 

            “Iya kalau cowoknya mau bertanggung jawab! Kalau tidak? bisa aja kan dia bilang “Siapa tau bukan cuma gue satu-satunya yang inves ke elo!”  Hayo kalo uda gitu mo gimana lagi? Bisa jungkir balik tu dunia!” Cica semakin bersemangat.

            “Alamat madesu alias masa depan suram coz sekolah terpaksa stop karena hamil, ntar melahirkan tanpa husband, horrible banget kan?!” 

            Tiba-tiba Bayu mulai merengek. Mungkin merasa bosan dengan pembicaraan remaja-remaja yang mulai serius itu dan tak lagi memperdulikannya. Jean mengambil Bayu dari tangan Kinanti.         

            “Setahuku wanita yang sedang hamil dilarang untuk dinikahi sampai ia selesai masa nifas sama!” tambah Cica bak seorang ustadzah.Ngalahin-ngalahin Ibu Rohima guru agama mereka di sekolah. 

            “Kamu koq, cerdas sih?” Kinanti jadi antusias mendengar penjelasan panjang kali lebar Cica. Gak percuma ia punya nekbong seorang kapiten eh kyai. 

 Tapi, terlepas dari alasan apapun Cica benar, wanita memang selalu penerima akibat terbesar dalam soal ini.  Sejenak ketiga remaja itu terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.                        

“Eh, by the way on the way, sebenarnya kita ke sini mo ngajakin kamu ke Curup besok!” tiba-tiba Cica ingat tujuan mereka.

            Ada acara apa?” Jean bertanya.

            “Ada sepupuku yang baru datang dari Pekan baru, dia pengen banget liat bunga raflesia, denger-denger lagi ada yang mekar di Suban dan likuan sembilan, tapi kalau di likuan sembilan sudah mulai layu sedang di Suban baru mekar!” Cica menjelaskan.

            “Nah, berhubung kamu juga orang baru, ikut ya! Sebenarnya masih banyak potensi wisata bumi raflesia yang belum tergali! Cuma karena minus promo aja jadi belum terekspose!” jelas Kinanti.

            “Kinan koq mirip petugas dinas pariwisata ya?” Jean tertawa disusul  keduanya.

            “So?” Cica menunggu jawaban Jean. 

            “Hm, tapi aku harus tanya Mama dulu, minggu ini kerjaannya sedang banyak, kasihan Bayu gak ada yang jaga”   

            “Gak papa Jean, pergi aja! Kebetulan besok tante Mia yang akan kesini!” Tiba-tiba Mama sudah berdiri di belakang mereka sambil membawa nampan berisi 2 gelas teh hangat.

            “Wah tenkyu banget tante, jadi ngerepotin” Cica terkekeh.

            “Iya, tante maksudnya sekalian sarapan juga gak nolak!” timpal Kinanti disusul pecahnya tawa di ruangan itu.

                                                                        ***

            Pembicaraan dengan kedua sahabatnya tadi pagi meninggalkan bekas yang cukup dalam bagi Jean. Luka yang selama ini coba ia keringkan seolah terkuak lagi.  Membaru dan kembali perih. Hampir dua tahun sudah kejadian itu.  Selama itu pula telah ia lunaskan dengan penginsyafan yang keras dan sungguh-sungguh.

            Penyesalan memang selalu datang terlambat, semua baru kita sadari ketika kita telah kehilangan. Dan kepergian Papa untuk selamanya seakan memutasikannya dari mimpi buruk ke mimpi buruk lainnya.  Meninggalkan sayatan yang terlampau perih.

            Ia tak mau Papa tersiksa di alam sana. Ia mau Papa tenang.  Meski ia hanya bisa menghadiahi dengan untaian doa panjang disetiap akhir sholatnya.  Bukankah hanya doa anak yang solehlah yang akan menolong orang tuanya ketika mereka telah tiada?

            Jean menuntaskan dengan membaca tilawah yang tersendat-sendat oleh isakan tangis.  Diraihnya foto yang tergelatak di sudut meja belajar.  “Maafkan Jean, Papa! Jean akan buktikan kalau Jean bersungguh-sungguh!”

            Tiba-tiba terdengar suara Bayu menangis.  Buru-buru Jean keluar menuju kamar Mama dimana Bayu biasa tidur.     

                                                                        ***

            Bayu demam, berarti ia tak akan jadi menemani Cica dan Kinanti ke kota dingin Curup hari ini.  Tadi ia sudah menghubungi Cica. Biarlah, toh mereka tetap akan bergembira meski tanpa kehadirannya.  Tapi Mama, tanpanya beliau akan kerepotan.  Dan ia pun tak akan sanggup meninggalkan Bayu dalam kondisi seperti ini. 

            Jean mengganti kompres Bayu.  Berkali-kali ia menciumi wajah tak berdosa itu.  Tak terasa butiran bening mulai mengalir deras bagai anak sungai.  Kata-kata Cica kembali terngiang di gendang telinganya, “Dalam hal ini wanitalah yang yang paling menderita”.  Benarkah ia yang menderita? Ataukah bocah ini?

            Bayangan kejadian dua tahun lewat seakan dilihatnya kembali dari dua mata bening yang saat ini terkatup.  Kala itu ia dan teman-teman mengadakan pesta kenaikan kelas di sebuah cafe hingga larut. 

Menegak minuman yang bukan hanya membuat hilang kesadaran untuk sementara waktu tapi lebih dari itu ia telah kehilangan kehormatan selamanya yang direnggut Freddy pacarnya sendiri.  Masa-masa remaja yang indah dan penuh warna lesap dalam sekejap.

Sedangkan Freddy, laki-laki yang telah menanam benih di rahimnya itu telah kabur sebelum ia sempat meminta pertanggung jawaban. Laki-laki itu telah mencap noda hitam abadi yang harus ia tanggung sendiri.

            Sepeninggal Papa mereka memutuskan untuk pindah ke Lampung kota kelahiran Mama.  Wanita yang sabar itu, terus membimbing agar dapat mengembalikan kepercayaan Jean untuk bangkit meski itu pahit.

Pertentangan batin itu berujung pula ketika ia beberapa kali dipertemukan dengan seorang yang bernama mbak Rianti di sebuah rumah sakit.     Hal yang membuat Jean tak menyangka ketika mbak Rianti pernah begitu jujur menceritakan masa kelamnya.  Entah dengan maksud apa.  Sampai pada kisah bahwa wanita itu juga pernah beberapa kali menggugurkan kandungannya. 

Masa muda dan cita-cita yang masih panjang selalu menjadi alasan untuk mengindari lembaga pernikahan. Meskipun ia dan kekasihnya telah bertahun-tahun hidup serumah.  Walaupun pada akhirnya mereka memang menikah. Harta berlimpah dan materi yang ada ternyata tidaklah cukup.  Ada saat dimana kesepian mulai memasuki fase rumah tangga mereka.   Saat sunyi mulai rindukan gelak tawa dan jerit tangis seorang bocah.                                                 

Namun sayang, hingga diusia kesepuluh pernikahan mereka  Allah masih belum memberikan mereka satu orang pun buah hati.  Mungkinkah itu refleksi dari perbuatan sia-sia yang pernah mereka lakukan dulu?

            Tiba-tiba Jean merasa diantara himpitan kesalahan yang pernah ia buat ada sebulir kekuatan untuk mempertahankan janinnya.  Menghentikan usaha untuk menggugurkan kandungannya.  Meski untuk itu ia harus mengorbankan semuanya, termasuk masa remaja dan harus melahirkan anak tanpa suami.                         

Ya! Bocah mungil dan lucu bernama Bayu yang selama ini dianggap kedua sahabatnya sebagai adiknya sesungguhnya adalah anaknya! Anak  yang terlahir dari rahim remajanya.  Anaknya dengan laki-laki bernama Freddy. 

Setahun setelah kelahiran Bayu mereka akhirnya memutuskan hijrah ke Bengkulu.  Mama mendapat tawaran dari tante Mia untuk membantu mengurus usaha ternak puyuh.  Dan Jean sendiri memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya. 

                                                ***

            “Jean, kamu di rumah kan?”  suara Kinanti terdengar jelas di ujung telpon ponselnya.

            “Iya Kin, tapi sekarang lagi bersiap ke rumah sakit!” Suara Jean parau. Semalamam demam Bayu turun naik. Menurut dokter, Bayu harus segera diopname.

            “Bayu?” kali ini suara Cica. 

            “Iya Ca, demamnya makin tinggi!” terdengar nada cemas disana.

            “Innanilahi! Ya udah, kamu tunggu aja, biar kita antar.  Kami sudah Kembang seri!” Cica menyebutkan nama daerah yang telah masuk wilayah Bengkulu utara. Gadis itu mempercepat laju mobil.                

                                                                        ***

            “Udah siap?” Cica langsung masuk. 

            Jean mengangguk lemah, “Tinggal tunggu Mama yang sedang menyiapkan surat menyurat” sesekali ia menepuk-nepuk pantat Bayu yang rewel.  Wajah ibu remaja itu pucat sekali. 

            Kinanti meletakkan sesisir pisang Curup dan sekantong marning di atas meja makan oleh-oleh dari bumi Pat Petulai.  Setelah itu mereka melangkah keluar.

            “Sepupumu mana?” Jean kembali bertanya.

            “Tidur di mobil, dari tadi dia yang nyetir, kecapek’an kali! Nekat juga tu anak dari Pekan baru bawa mobil sendiri!” Cica mengambil alih satu tas yang dijinjing Cica.

            Jean hanya menarik nafas dalam.  Menatap kaki-kaki mungil Bayu yang digendongan Mama.  Kaki kanannya tumbuh lebih kecil dari kaki kirinya. Mungkin itu akibat dari usaha untuk mengugurkannya dulu.  Jean semakin terjerat penyesalan.

            Mereka berjalan semakin mendekati kijang kapsul milik Cica yang diparkir di mulut gang.  Dari kejauhan terlihat sesosok laki-laki muda tengan terlelap dengan posisi menyandar di samping kursi supir.

            Begitu lelap, hingga suara hentakan pintu mobil pun tak membangunkannya.  Cica kemudian membawa mobil menuju selatan kota menembus matahari sore di bumi raflesia.  Sementara Jean begitu resah  dengan pikirannya. 

            Darahnya tiba-tiba berdesir hebat! Degup jantung yang tak kuasa ia tahan seperti akan membobol dadanya.  Ya Allah! jika matanya tak salah,  ia begitu mengenali laki-laki yang tertidur di samping Cica saat itu.   Meskipun ia dalam posisi membelakangi. Justru dengan posisi itu ia dapat melihat dengan jelas sebuah tanda!

            Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk dapat melupakan tahi lalat di tengkuk itu.  Jean begitu hafal.  Wajah Jean semakin pias ketika laki-laki itu membalikkan badannya dan menatap Jean lewat kaca depan.

            “Jjjjean??!!”  Ia menoleh secepat kilat.

            “Kau? Freddy??!!”  setelah itu Jean tak sadarkan diri.  Tubuhnya lunglai rebah di bahu  kanan Kinanti seiring dengan pecahnya tangis Bayu.

 

                                                                                    Bumi Raflesia 260605

Dedicated for everybody I’ve known 

 

 

 

Foot notes :

Kelak                             : Nanti(bahasa Bengkulu kota)

Banyak kendak             : Banyak maunya

Cak                                : Mirip, serupa (bahasa Bengkulu kota)

Segedang                       : Sebesar (bahasa Bengkulu kota)

Nekbong                        : Kakek

Tun-jang                      :Keturunan Rejang, orang Rejang, pada umumnya berkulit    putih bersih, bermata sipit.  Seperti orang cina.

Suban                            : Salah satu objek wisata Air terjun air panas yang ada di kota Curup.

Likuan sembilan        : Nama tempat yang sering di lewati kendaraan umum jika akan

keluar propinsi.

Marning                      :Jagung kering asin

Pat petulai                  : Semboyan suku Rejang yang berarti Empat Marga Bersatu.

 

 

 

 

 

 Biodata Penulis

 

Sisk@ Rusm@n:

Pemilik nama lengkap Fransiska ini lahir di kota sejarah nan elok, Pagar Alam Sumatra selatan pada tanggal 25 Maret 1978.  Terlahir dari pasangan Drs. Rusman.S dan Harminingsih sebagai sulung dari 3 orang  “Pejantan tangguh”. 

 Menjelang usia 2 tahun Siska kecil diboyong hijrah ke bumi Raflesia. Menamatkan pendidikan dari TK-Kuliah di Bengkulu.  Menyukai dunia tulis menulis semenjak kecil dengan rajinnya menulis catatan harianJ 

Pernah menjadi pengurus bulletin “In touch” ketika ia masih berstatus mahasiswa FKIP Bahasa Inggris.  Persinggungannya dengan komunitas kepenuliasan FLP tahun 2001 lalu membuat Ghiroh baru dan berniat menjadi “penulis”.

Namun alasan prioritas dan fasilitas sempat membuatnya mandek.  Baru beberapa tahun belakangan ini ia mulai mencoba mengembalikan niat awalnya. 2 cerpennya “UCIL” dan “Fara’s Idol” sempat numpang nampang di 2 media lokal.

Baginya kedua karya kecil tersebut belumlah ada apa-apanya. Tapi cukup memotivasinya untuk terus berkarya. Berharap lewat tulisan ia ikut mewarnai seni fiksi yang mengusung nilai kebaikan dan kebajikan.

Alumni Universitas Bengkulu ini sekarang bekerja sebagai staff pengajar di SMK Negeri 3 Bengkulu dan aktif sebagai pengurus FLP wilayah Bengkulu pada divisi Penerbitan.

Saran kritik bisa di kirim ke Siska_rusman@mailcity.com


Posted at Friday, July 01, 2005 by flpbengkulu
Beri Komentar  

Thursday, April 21, 2005
isi pamflet SB '05

Pingin ikut lomba SUMATERA BRIGHT 2005?

Ini nih syaratnya :

1. Menulis Cerpen

*       Umum : Naskah belum pernah dipublikasikan, asli, boleh saduran atau mengambil idenya, naskah ditulis EYD

*       Tema : bebas Islami, panjang 6-10

*       Tulisan time new roman, diketik 2 spasi di kertas kwarto

*       Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah dan tidak memperkenankan menuliskan indentitas di atas naskah (indentitas ditulis secara terpisah)

*       Bagi para pemenang wajib menyerahkan disket karyanya kepada panitia

*       Karya pemenang akan dipublikasikan

*       Pendaftaran @ Rp. 10.000,- (25 April -9 Mei 2005)

 

 

2.  Menulis Opini

*       Pendaftaran Rp. 7.500,- (25 April- 9 Mei 2005)

*       Tema : Bengkulu Kota Pelajar atau Seputar FLP

*       Tulisan time new roman, diketik 2 spasi, maksimal 5 halaman kuarto

 

 

3.    Mading

*       Tim maksimal 7 orang

*       Tema : FLP dan Bengkulu kota Pelajar

*       Pendaftaran : @ Rp. 15.000,-

*       Hadiah : Piala dan piagam

*       Batas akhir pendaftaran 2-16 Mei 2005.

*       Mading dibuat di tempat perlombaan

*       50 % persiapan sudah dilakukan di rumah

*       Satu sekolah, boleh mengirimkan lebih dari satu mading

*       Tempat : Taman Budaya

*       Waktu : 2 jam

 

4.  Cipta Puisi

*       Puisi diciptakan ditempat

*       Tema : Bengkulu Kota Pelajar

*       Tempat : Taman budaya

*       Waktu : 2 jam

*       Pendaftaran   Rp. 7.500,-

*       Batas akhir pendaftaran 2-16 Mei 2005.

 

 

Jangan Ampe Lewat Acara Super SERU INI!!!

 

Menghadirkan Keynote speaker :

*      M. Irfan Hidayatullah ( Ketua FLP Pusat )

*      M. Syamlan, LC (Penasehat FLPBengkulu)

*      Kep. Dep. Pendidikan Nasional

*      Sri Rahayu ( Co. FLP se-Sumatera & Ketua FLP Bengkulu )


Launching Buku :

*      Pipiet Senja

*      Izzatul Jannah

*      Koko Nata

*      Agnes A. Majestika

*      Herman Suryadi

 

Menghadirkan Penulis-penulis FLP Sumatera :

Cut Intan Mutia, Cut Januarita, Maya Lestari GF, Nurul F. Huda, Syahda Renu, Azzura Dayana, Ika Nurliana, Naqiyyah Syam, Maya Safera, Novianti, Agusmantono, Elzam Zami, dan masih banyak lagi!


Posted at Thursday, April 21, 2005 by flpbengkulu
Beri KOment  

peserta dan syarat lomba SB '05

KRITERIA PESERTA KEGIATAN DAN PERSYARATAN LOMBA

SUMATERA BRIGHT 2005

Bengkulu, 21-24 MEI 2005

 

 

 LOMBA MENULIS

 

Persyaratan Umum Lomba

A. Persyaratan Umum

@ Lomba terbuka untuk umum

@ Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan menggunakan EYD.

@ Naskah harus asli, bukan terjemahan, saduran, atau mengambil ide dari karya orang lain.

@ Tema bebas tetapi islami

@ Naskah   belum    pernah    dipublikasikan    dalam    media   manapun   dan   tidak   sedang

     diikutsertakan dalam perlombaan lain.

@ Peserta hanya boleh mengirimkan 1 (satu) naskah  / karya.

@ Keputusan juri bersifat mengikat dan tidak dapat diganggu gugat serta tidak diadakan surat-

     menyurat.

@ Peserta harus membayar uang pendaftaran.

 

Persayaratan Lomba Menulis Cerpen

@ Naskah diketik dua spasi di atas kuarto.

@ Panjang naskah 6 – 10 halaman, time new roman.

@ Naskah dikirim rangkap tiga dan dilampiri identitas diri yang jelas / fotokopi identitas.

@ Peserta tidak diperkenankan menulis nama atau identitas diri pada naskah cerpen yang dikirimkan (Identitas ditulis terpisah).

@ Naskah dimasukkan di dalam amplop tertutup, di pojok kiri ditulis “Lomba Menulis FLP”.

Naskah bisa dikirimkan pada alamat : Sekretariat FLP a.n. Meitin Jl. Flamboyan                                                                    Via kotak FLP di Ucok dan Toko Adzkia.

@ Naskah diterima 25 April – 9 Mei 2005.

@ Biaya pendaftaran Rp. 10.000/orang.

@ Pemenang akan diumumkan pada kegiatan FLP EXPO, tanggal 21 Mei 2005, di Taman Budaya Bengkulu, Pukul 14.00 – selesai.

@ Hal – hal yang belum jelas, hubungi :
          Yayuk  : 0815 390 6044 / (0736) 341532.

          Milda   : 0811 734 882 / (0736) 346552

          Liber   : 0813 67 666 339

 

 

LOMBA CIPTA PUISI DAN MADING

 

Lomba Cipta Puisi

@ Lomba cipta puisi diadakan di tempat, peserta membawa pelengkapannya masing – masing.

@ Lomba diadakan pada tanggal 21 Mei 2005.

@ Peserta diberikan waktu satu jam untuk menciptakan puisi.

@ Tema puisi Bengkulu Kota Pelajar.

@ Biaya pendaftaran Rp. 7500,-/orang.

@ Peserta menuliskan puisinya, di atas kertas yang telah distempel oleh panitia.

@Pendaftaran peserta dari tanggal 2 – 16 Mei 2005.

 

Lomba Mading

@ Lomba madding diadakan di tempat.

     Lokasi Taman Budaya, tanggal 21 Mei 2005.

@ Peserta duberikan waktu 2 jam.

@ Team, maksimal 7 orang.

@ Pendaftaran Rp. 15.000,-/karya.

@ 50 % persiapan madding sudah dilakukan di rumah.

@ Satu sekolah boleh mengirimkan lebih dari satu mading.

@ Tema : FLP dan Bengkulu Kota Pelajar.

@ Batas pendaftaran : 2 – 16 Mei 2005.

 

 

Lomba Menulis Opini FLP

 

@ Tema : FLP dan perkembangannya.

@ Font : Time New Roman, 12.

@ Panjang tulisan 1 – 3 halaman kuarto.

@ pendaftaran @Rp.10.000,-

@ Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah.

@ Pendaftaran lomba 25 – 9 Mei 2005.

 

 

Panji Sumatera (Pelatihan Jurnalistik)

 

@ Pendaftaran anggota FLP Rp. 10.000,-/orang.

 Non anggota FLP Rp. 25.000,-/orang.

@ Fasilitas : Modul materi, souvenir, snack, makan siang.

@ Pendaftaran : 9 – 16 Mei 2005.

@ Tempat : Taman Budaya

@ Waktu :08.00 – 18.00 WIB.

 

 Talk Show dan Peluncuran Buku

 

@ Tiket Rp. 3500,-

@ Fasilitas : snack + souvenir FLP

@ Pendaftaran : 9 – 16 Mei 2005

@ Tempat : Taman Budaya

@ Waktu : 08.00 – 13.00 WIB

@ Hiburan : Nasyid + Puisi (teater Damai, MAN MODEL Bengkulu).

 

 

Up Grading

 

@ Biaya pendaftaran anggota FLP Rp. 10.000,-

@ Fasilitas : Makan 2 X, snack 3 X, makalah.

@ Pendaftaran : 9 – 16 Mei 2005

@ Peserta anggota FLP dan umum (sudah pernah menulis, tulisannya pernah dipublikasi).

 


Posted at Thursday, April 21, 2005 by flpbengkulu
Beri Komentar  

Proposal Sumatera Bright 2005

SUMATERA BRIGHT 2005

Bengkulu, 21-24 Mei 2005

 

 

 

Tujuan kegiatan :

  1. Mempererat ikatan persaudaraan antara anggota FLP seluruh wilayah Bengkulu dan Sumatera.
  2. Mempersiapkan FLP untuk go international
  3. Melahirkan penulis-penulis muda yang produktif dengan karya yang lebih berkualitas
  4. Kampanye gemar membaca dan menulis guna mempersiapkan Bengkulu “Kota Pelajar”

 

Tema Kegiatan :

 “Bersama Melangkah Menjadi Penulis Meyongsong Bengkulu Kota Pelajar”

 

Nama Kegiatan :

FLP EXPO 2005

 

Bentuk Kegiatan

  1. Lomba Menulis

Ajang kreatifitas menulis bagi anggota FLP dan khalayak umum. Jenis tulisan yang dilombakan :

    • Lomba Menulis Cerpen
    • Lomba Menulis Opini tentang FLP
    • Lomba Menulis Puisi
  1. Talkshow Kepenulisan  dan Pameran karya FLP 

Ajang diskusi tentang kepenulisan, FLP serta pameran karya anggota FLP, pameran buku umum, marchandise FLP, serta perkembangan kegiatan FLP seluruh wilayah Bengkulu dan Sumatera

  1. Peluncuran Buku

Peluncuran buku karya Antologi Cerpen dan Puisi FLP Bengkulu dan Antologi Cerpen Sumatera.

  1. Pelatihan Jurnalistik FLP 2005

Menjaring minta dan bakat penulis berpotensi di Sumatera, khususnya Provinsi Bnegkulu dan menjadikan peserta tim buletin di sekolah/universitas mereka masing-masing.

  1. Up-grading Penulis Sumatera

Ajang peningkatan kualitas kepenulisan khususnya penulis FLP Sumatera

  1. Musyawarah Wilayah

Ajang pertemuan perwakilan pengurus dari seluruh Bengkulu untuk merumuskan kebijakan-kebijakan terbaru FLP Bengkulu.

 

Waktu Kegiatan

Kegiatan ini akan diselenggarakan pada tanggal 21-24 Mei 2005 Mei 2005. Dengan rangkaian acara sebagai berikut :

  1. Lomba Menulis : Pelaksanaan dimulai sejak pengumuman. (bulan Maret 2005 sampai pertengahan Mei 2005).
  2. Talkshow dan Pemeran : 21-23 Mei 2005
  3. Peluncuran buku : 21 Mei 2005
  4. Pelatihan Jurnalistik FLP 2005 : 
  5. Up-greading Penulis Sumatera :  Mei 2005
  6. Musyawarah Wilayah Bengkulu : Mei 2005

 

Tempat Kegiatan

Kegiatan ini dilaksanakan di Komplek Seni dan Budaya Taman Budaya Bengkulu

 

Penyelenggara kegiatan

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena Bengkulu (tempat pelaksanaan) bekerjasama dengan Forum Lingkar Pena Wilayah Sumatera dan koordinasi dengan   Forum Lingkar Pena Pusat.

 

Penutup

Demikianlah usulan kegiatan Forum Lingkar Pena yang kami ajukan ini. Besar harapan kami usulan kegiatan ini mendapat tanggapan positif dari berbagai pihak yang peduli. Apa yang kami ajukan tidak akan terwujud tanpa kerja keras,kesungguhan,bantuan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami mengharapkan partisipasi dari segenap pihak baik material maupun spiritual demi keberhasilan kegiatan ini. Atas perhatian,bantuan dukungan serta kerjasama yang baik, kami ucapkan terima kasih.

 

 

 

Bengkulu,  Maret 2005

 

Panitia Pelaksana


Posted at Thursday, April 21, 2005 by flpbengkulu
Beri KOment  

cerpen KOKO RBA

Dua Badai

Oleh: Prakoso Bhairawa Putera S
 

 

“Aku harus melaut !” gumam sosok setengah baya dari tepi pesisir. Matanya kemudian memandang ke langit malam.

“Langit mulai dipenuhi awan hitam, bintang pun tak banyak berkerlipan tapi aku harus tetap melaut !”

Angin malam berhembus meniup dedauanan nyiur dan perlahan perahu Baharman lepas dari bibir pantai. Ombak mulai menyambut perahu miliknya. Perlahan suara dari mesin motor perahu tak terdengar lagi seiring dengan perahu yang semakin jauh meninggalkan pesisir.

Pekerjaan seperti ini terkadang menjadi aktivitas sampingan Baharman disela-sela rutinitasnya sebagai seorang kuli kapur sekolah menengah di perkampungan nelayan. Hujan, badai dan angin kencang terkadang datang. Namun, bagi diri Baharman itu semua teman baginya sehingga tidak pernah ada kata mengeluh. Ia rela ketika pagi harus datang ke sekolah dan mengajarkan anak didiknya sesuai dengan tuntutan profesi seorang guru dan apabila besoknya tidak ada jam mengajar, malam harinya ia melaut. Semua dilakukan untuk menghidupkan istri dan anak-anaknya ditambah lagi tanggung jawab sebagai seorang kakak untuk membiayai kedua adiknya yang masih sekolah.

Adik Baharman bernama Aminah kini sudah hampir jadi sarjana, sedangkan yang satunya baru memasuki semester empat di universitas negeri di pulau Jawa. Anak-anak Baharman masih kecil-kecil. Anak pertamanya baru duduk di kelas enam SD, yang bungsu baru berumur lima tahun tanggal tiga pulah nanti. Istri Baharman tidak pernah menuntut ini itu dari suaminya, ia pamah betul akan kondisi, sehingga ia rela membuka warung yang menjual makanan dan jajanan di SD tempat anaknya sekolah. Bila keluarga Baharman berharap pada gaji tentu itu tidak mungkin terpenuhi walaupun kabarnya gaji guru naik. Oleh karena itulah Baharman melaut untuk menambah penghasilannya.

Baharman bukanlah tipe orang menyia-yiakan kepercayaan dan tugas yang telah diberikan kepadanya. Kalaupun ia melaut, itu pasti dilakukan apabila pada esoknya ia tidak mempunyai jam mengajar di sekolah. Walau banyak juga teman seprofesi dengannya yang telah menjadi pegawai negeri kadang-kadang meninggalkan tugas mengajar demi pekerjaan sampingan dengan membiarkan anak didiknya mencatat ataupun mengerjakan tugas yang ia berikan. Tapi baharman tak pernah melakukan hal tersebut. Sebab ia sadar bahwa kehadirannya untuk membesarkan orang dengan segala kerelaan.

Suara mesin terhenti. Perahu Baharman kini terombang-ambing di tengah laut. Di tengah laut baharman sudah berubah status, kini ia bukan guru bagi anak didiknya tapi Baharman adalah nelayan yang siap dengan kepahitan laut. Sesaat kemudian ia mulai menjalankan aktivitas sebagai nelayan. Dengan rasa penat bercampur dingin malam, Baharman menyulut sebatang rokok. Sembari menatap langit yang makin kelam, Baharman menhempaskan asap rokok itu dengan kuat-kuat ke atas. Angin tampak memainkan asap yang terombang-ambing lalu asap itu buyar.

Selang beberapa menit Baharman terkejut, dari kejauhan tampak sebuah kapal melaju ke arahnya. Kapal itu bukan seperti kapal-kapal nelayan pesisir milik juragan Abu yang sering ia temui saat melaut. Meski malam sangat gelap tapi mata Baharman tidak mungkin salah melihat.

“Itu kapal nelayan asing, yah itu pasti kapal nelayan asing yang selalu dibicarakan rekan-rekan nelayan” yakin Baharman.

Selama beberapa tahun ia melaut baru kali ini Baharman melihat kapal nelayan asing secara nyata-nyata berkeliaran di perairan laut selatan pulaunya. Kini baharman percaya akan berita di Koran dan pembicaraan rekan-rekannya sesama nelayan tentang aktivitas pencurian ikan oleh nelayan asing. Baharman mulai ketakutan, karena menurut kabar angin siapa saja yang bertemu dengan nelayan asing saat melaut pasti akan ditangkap dan dibunuh oleh para awak kapalnya.

“Tidak,…tidak. Itu hanya kabar angin saja, mereka tidak mungkin sekejam itu” kata Baharman meyakinkan diri. Namun kapal nelayan berbendera ganda itu semakin nampak dan mendekat ke arahnya. Dengan sigap Baharman menghidupkan mesin motor perahu. 

“Ayo,… cepat. Aku tidak mau jadi korban dan bahan pemberitaan di koran-koran lokal !” 

Baharman mulai panik tatkala mesin motor perahunya belum juga berfungsi, sementara itu langit makin hitam pekat. Bintang yang tadinya hanya beberapa berkerlipan kini tidak ada sama sekali yang nampak. Awan hitam kian tebal, air laut pun kelihtannya sudah mulai meninggi memainkan gelombang. Biasanya sebentar lagi badai akan datang. Akan tetapi, Baharman tak mempedulikan semua itu.

“Badai sudah sering aku temui tapi dengan kapal nelayan asing baru kali ini” Baharman kembali mencoba menghidupkan mesin motor perahu.

“Alhamdulillah, akhirnya” Baharman langsung melarikan perahu menjauh dari kapal nelayan asing itu.

“Aku tidak mau jadi korban. Bukankah aku punya anak istri yang masih harus aku nafkafi, aku juga ingin mendampingi adikku Aminah ketika wisuda nanti dan bagaiman nasib anak didikku kalau aku tidak ada ?”

Otak Baharman kini dipenuhi pertanyaan, pikirannya mulai melayang entah kemana. Baharman ingat akan janjinya pad mendiang kedua orang tuannya untuk membiayai Aminah dan Amir hingga selesai kuliah dan ingin ia masukkan adiknya Aminah menjadi pegawai negeri, karena sejak menjadi propinsi baru daerahnya dalam pemekaran wilayah dan pembenahan yang tentunya sangat membutuhkan banyak pegawai baru. Tapi, kemarin ia mendengar pembicaraan rekan-rekan guru kalau melamar ke sana mesti siap pelicin yang jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung.

“Kemana aku mencari uang untuk pelicin ?” Baharman berpikir, padahal sekarang zaman sudah berubah, tapi budaya suap masih saja merajalela. Kalau saja aku anggota dewan mungkin aku segera menyetujui usulan agar gaji pegawai dinaikkan seratus persen . Tapi yang paling penting naik menurutnya adalah gaji guru seperti dirinya, karena ditangan para gurulah maju-mundurnya generasi bangsa. Kalau gaji guru sudah naik, mungkin tidak perlu lagi melaut.

Pikiran Baharman terus melayang tak tentu arah, teringat olehnya usulan orang-orang di pelelangan untuk berdemostrasi di gedung dewan menuntut penangkapan dan pembersihan perairan laut pulaunya dari kapal-kapal nelayan asing yang sangat meresahkan. 

Baharman tak menyadari kalau sekarang ia telah keluar dari perairan tempat biasanya ia melaut, sementara kapal nelayan asing masih saja memburunya di belakang. Tiba-tiba saat itu hujan lebat berderai, petir pun berdentuman menyambut kilat yang membelah kelam malam.

“Astaghfirullah !”

Baharman menjaga keseimbangan perahu. Gelombang besar datang silih berganti, kapal nelayan asing yang sedari tadi memburunya sudah semakin dekat.

“Dor… dor” suara tembakan dari arah kapal nelayan asing. 

Baharman terus menjaga keseimbangan perahu hingga akhirnya…..

“DOR….” Sebuah peluru mengenai tubuh Baharman, ia pun tak kuasa menjaga kesimbangan hingga perahunya terbalik bersama datangnya gelombang besar. Tubuh Baharman terapung-apung di permukaan, cukup lama ia menahan rasa sakit dan dingin “Aku bisa kalah juga” akhirnya Baharman tenggelam bersama peliknya semua romantika hidup yang dijalani.

Sementara itu gelombang kian bertepuk meramaikan petir dan kilat yang saling menyambar di cakrawala

 

*****
 

“Koran… Koran, Baharman jadi korban nelayan asing”

“Koran, yang hangat… yang hangat dari seorang guru sekolah menengah jadi korban nelayan asing saat melaut”

 

Tentang Penulis:

Prakoso Bhairawa Putera S, lahir di Tanjung Pandan, 11 mei 1984. Setelah menamatkan pendidikan di SMU 2 Sungailiat (2002), ia melanjutkan studi pada jurusan Ilmu Administrasi Negara FISIP – Universitas Sriwijaya (Palembang).

Kegemarannya menulis sejak SMP telah membawanya dalam usia relatif muda dapat menjadi juara pada berbagai kompetisi menulis baik bidang ilmiah maupun sastra dari tingkat provinsi sampai nasional. Mantan wartawan pelajar “AkSes” Bangka Pos Group ini, karya-karyanya berupa puisi, cerita pendek, esai, artikel dan dongeng dimuat pada Suara Karya, Annida, Bangka Pos, Sriwijaya Post, Sumatera Ekspres, Transparan, Tabloid Anak Hoplaa serta tersebar diinternet.

Selain itu ia juga aktif pada Lembaga Pers Mahasiswa dan bertindak sebagai Redaktur Pelaksana pada Tabloid Mahasiswa “Indralaya Post” Universitas Sriwijaya dan tergabung dalam Komunitas Pekerja Sastra Pulau Bangka (KPSPB) serta Forum Lingkar Pena (Koordinator Bangka-Belitung)


Posted at Thursday, April 21, 2005 by flpbengkulu
Beri Komentar  

Tuesday, April 12, 2005
Puisi BEtty HErlina

 

Istri ku

Menangislah sayang,

Ratapi keriputmu yang kian tercetak usang

Setelah semedi cinta kita yang panjang

Panjang dan hampir usai

Belasan dalam kita lewati

Dalam kidung jangkrik dan kerlingan  cicak

Bersama bale-bale bambu yang menjelma menjadi ranjang emas

Siluet senja perdana membekas

Diantara wangi melati

Berkumandang ikrar suci

Sayang setengah abad kita mengayuh sampan

Terkulai,tertawa bersama riak yang membuat kita tetap kokoh ketika terhempas karang

Sayang sebentar lagi kita akan tertidur pulas

Aku bahagia, cukup sudah persembahan tarian cintamu

Terbatas tapi aku puas

 

Aku

Aku laksana mawar ringkih ditaman bunga

Yang hanya akan merekah ketika langit menangis

Aku terus berlari mengejarmu

Sampai aku gugur

 


Posted at Tuesday, April 12, 2005 by flpbengkulu
Beri KOment  

Monday, April 04, 2005
perempuan di pertigaan

PEREMPUAN DI PERTIGAAN

Elzam Zami

 

Dahaga sekali Mut sepulang dari merumput dan suaminya menyambut dengan tawaran air  pahit. “Aku mau menikah dengan Rohana, terserah kau mau dimadu atau ingin sendiri! Aku tak peduli.”

Apa yang membuat Badar mau menikah lagi? Harta! Apa yang ia punya selain dari sehektar-dua hektar tanah itu! Siapa pula yang tekun menggarapnya?

nikeak bae1)…” Kata Mut. Dengan Rohana lagi, lekat sekali keadaan perempuan itu di benak Mut. Juga keadaan keluarganya. Tak cantik-cantik amat perempuan itu.

Wajah Mut sedikit menjadi sendu. Tak perlu berlebihan melarutkan rasa. Berlebih-lebihan memang selalu tak berujung baik. Ketika ada riak berdentum di benak cukup ia bentuk segaris mimik mewakili riang, benci, iba atau sesak. Tipis saja!

Kini paras sendu Mut berubah garis lengkung ke atas. Tersenyum. Tak apalah persahabatannya dengan matahari menjadikan ia hitam. Pun panasnya api tungku dapur dan asap yang mengaroma ditubuhnya. Tubuh yang semasa Mut gadis sering dibicarakan keindahannya. Kulit halus, wajah menarik, bentuk tubuh sintal…

Tapi aku perempuan. Tak seharusnya begini. Kewajarannya adalah tampil cantik dan wangi.

Itu dulu, ketika kau masih gadis, kata hatinya.

Hhmm…benar juga. Itu yang membuat ia tersenyum. Sekarang Mut adalah isteri Badar dan ibu dari tiga anak. Adakah waktu luang untuk memanja diri?

“Nak, yang namanya wanita itu dicipta dari tulang rusuk lelaki! Pengabdian pada suami menjadi garis hidup…” Sebuah kalimat yang sering Mut dengar dari Ibunya semasa gadis.

Pernyataan yang sangat jelek, klaim Mut. Ceramah Ustadz Jaelani waktu Sri, anak tetangga sebelahnya menikah dulu pernah menjelaskan. Katanya tidak ada apa itu...? nash shahih alias kebenaran  yang menerangkan hal itu. Dan ia makin jengah.

@@@

Sore tadi enak saja suaminya menanti ia di depan rumah. Segudang serapah keluar dari mulutnya. Sebanding lurus dengan seringai sinisnya melihat Mut, sang isteri. Katanya, “Perempuan lelet2)apa saja kerja kau, heh? Di rumah tak ada apa-apa! Apa kau kira aku makan beras mentah…!” Marah besar Badar rupanya.

Nasi… nasi saja pikirannya kalau pulang. Coba sesekali berpikir bagaimana nasi bisa selalu ada di rumah ini. Mut menggeram. “Aku juga bisa marah” batinnya.

Ia tidak kalah berteriak, “Apa tidak salah pertanyaan dang3)? Kerja? Aku dari pagi memetik kopi sampai matahari merah. Pantas saja sudah habis dimakan anak-anak.” Ia berkata tidak kalah garang.

“Setahun aku menunggu kopi berbuah. Merumput, menyemprot, meranting berbulan-bulan, Dang di mana?

Seketika bunang4) yang ia sandang di bahu terhempas kasar. Ia yang lebih berhak marah. Bukan lelaki pengecut yang bisanya hanya keluyuran, judi, main perempuan…Berhamburan biji kopi merah memenuhi lantai.

Mut hanya memberi murka di dialog hati. Selebihnya, apalah yang dapat ia muntahkan mengenai kata sampah yang ingin sekali dilisankan ke telinga suaminya itu.

“Maaf Dang… kesorean, aku pikir Dang tidak pulang. Sebelum ke kebun aku masak untuk anak-anak, sedikit” ujarnya lirih sambil meletakkan bunang di lantai.

Badar memegang dagu  Mut. Bukan untuk menggagumi wajah itu.

Ko as aduknu coa belek, heh?5) Cepat kau masak! Aku mau pergi lagi nanti!”

Oh, Mut tak habis pikir. Kenapa perempuan selalu berada di bawah. Selalu saja terhempas lepas. Bahkan untuk berani berkata Ia adalah Muthmainah. Dengan tenang mendefinisikan kebebasan pada jiwa. Jiwa seorang Mut  juga yang mempunyai badani. Bukan Badar, ayahnya dulu—ketika belum berijab kabul pada Badar—atau masyarakat.

Masyarakat terlalu turut campur! Apalagi bagi tun jang6), sepertinya setiap orang harus tunduk pada anggapan yang dibentuk orang lain.

“Kebun kopi Badar itu berhasil terus. Berton-ton ia dapat hasil panen. Giat sekali sebong o7) berkebun…” Pembicaraan sehari-hari orang sedusun.

Apa mereka pikir Mut buruh yang dipekerja Badar. Harusnya ia mempertontonkan jadwal rutinnya. Setiap hari, subuh-subuh ia bangun dengan tubuh tanpa tenaga. Badar masih saja lelap setelah menumpahkan nafsunya yang sangat jelek. Baginya Mud adalah pelayan. Tak patut diperlakukan perempuan yang tidak mau melayani nafsunya dengan kasih.

Ia akan segera mennyalakan api. Menjerang air dan menanak nasi. Memandikan si bungsu dan menyiapkan Syamsudin dan syifa untuk berangkat ke sekolah. Setiap pagi anaknya selalu menjadi pangeran dan puteri yang harus dilayani.

Suami bangun! Tentu saja rumah telah lengang, kecuali piset8) dua tahun mereka. Badar akan segera berangkat ke kebun setelah makan. Mut akan segera menyusul  setelah membereskan rumah. Orang sedusun akan melihat Badar sebagai tipe pekerja keras.

Mut sangat benci anggapan itu. Ketika sampai di kebun tugasnya menjadi nyata. Suaminya malah menampakkan kenyataan miris. Ia masih asyik melanjutkan dengkur setelah jeda makan pagi. Malas-malasan beranjak melihat Mut telah sibuk dengan wangi rerumputan liar. Kebun harus dirumput dengan sekuit9).

Tangannya memang terasa lebih bertenaga sekarang ini. Bertahun-tahun ia melepas bedak untuk sebuah hidup. Bukan hidupnya saja, tapi juga hidup keluarganya.

Cras…cras…tangan sigapnya menebas rumput liar, kadang juga membersihkan ranting kopi yang kering. Saat-saat inilah ia menjelma menjadi sang penantang.

Ia tantang si Badar itu! Memang suaminya selalu saja kalah di adu berperang di medan yang mempertaruhkan hidup keluarga mereka. Seenaknya saja ia akan pulang setelah matahari lari dari putaran zhuhur.

“Aku masih banyak urusan! Kau kerjakanlah dulu kebun ini. Tak pantas aku melalaikan urusan di luar sana!”

Mut hanya diam. Toh ia butuh pekerjaan untuk menghidupi anak-anaknya, benteng yang membuat ia bertahan dari musuhnya. Bukan mengharapkan uang dari  setumpuk urusan  Badar.

Sesiang ini mulut perempuan-perempuan sedusun ia pastikan sedang bercuap-cuap menggunjing. Tak tahu mereka perempuan macam apa yang mereka gunjingkan itu.

Coa nam murus keluargo rupone Mut o10). Sampai-sampai Badar harus beristeri seorang lagi. Lihat saja badannya. Tak pernah memperhatikan kemauan suaminya. Percuma ia cantik dulu. Kini tak lagi merawat badan untuk suaminya. Gumak11) sekali Mut kini…”

Hapsah yang dulu sangat membenci Mut menyambung, “Tentu saja, puas ia dinikahi laki-laki  macam Badar yang digilai setiap perempuan waktu masih bujang. Untuk apa pula ia berdandan. Telah menang Mut dengan status isteri Badar”

“Meradanglah ia sekarang karena mau di madu dengan Rohana!” ujar Mar, tetangga sebelah-menyebelah Mut.

“Pantas sekali ia menerimanya. Perempuan yang sebenarnya tak perempuan. Hidupnya sebenarnya tergolong berkecukupan meskipun tidak kaya…”

Kalimat seperti itu sampai juga di telinganya. Malam ketika ia bertandang ke rumah ibunya. Marah besar ibunya kepada Mud.

“Mud, apa yang kau lakukan sampai suamimu mau menikah lagi. Tak cukup keadaan hidup kalian yang semakin baik itu?” kata Ibunya.

“Apa yang saya lakukan, Mak? Siapa pula yang berperan menciptakan keadaan baik itu? Banyaklah aku berkebun di ladang dibanding Dang Badar”

Tun leyen ipo teu12). Tahunya suamimu, Badar yang mencari nafkah dan ia termasuk berhasil. Pokoknya jangan sampai kau bercerai! Apa kata orang jika kau janda? Sekarang saja mereka melihat sebelah mata!” gerutu wanita tua itu.

“Mak…mengapa Mak selalu mendengar kata orang? Aku juga yang merasakannya, melakukannya, cobalah Mak mendengar kataku pula.”

“Jadi kau mau menjanda?”

“Apa aku bilang begitu?” Mut balik membalas pertanyaan Emaknya.

Ibu Mut berdiri, beranjak dari hadapan Mut, “Keras kepala! Terserah kau! Tapi ingat jangan kau buat malu emak dan almarhum bapakmu.”

Semua orang memang selalu tak pernah jujur bagi Mut. Tidak juga keluarganya. Apa mereka sangsi jika lengannya jauh lebih kokoh dibanding lengan berotot milik Badar. Tidak di rumah, tidak di ladang ia tak pernah menghentikan lengannya untuk sekadar mengusap kehalusan kulitnya. Jauh sekali kemubaziran itu ia buang.

Mut sama sekali tak mengharapkan Badar berbuat banyak untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Tak berharap lelaki itu membelikannya baju yang layak misalnya.  Ia bisa sendiri melakukannya. Ia percaya sedikit tenaga yang ia kumpulkan untuk bekerja seperti laki-laki menjadi bukit juga. Bukan tenaga besar Badar yang nyaris tak pernah digunakan.

Namun sekarang lelaki bernama Badar itu seperti pemimpin zalim saja. Padahal dengan apa ia memimpin? Dengan perangai kasarnya itu! Mau menikah lagi…

Mut terpekur. Tak sekalipun ia menyalahkan perempuan pilihan kedua suaminya. Rohana adalah perempuan juga, sama dengan dirinya. Namun adakah watak ingin merebut di pikiran gadis semacam Rohana?

Kepahitan hidup juga yang membuat ia menerima lamaran Badar. Dengan ekonomi yang sangat memprihatinkan sepertinya Rohana tak punya pilihan. Bukankah dengan menikah ia dapat mencukupkan kewajiban ayahnya untuk menafkahi. Menolak pun sama dengan ia dianggap durhaka oleh orangtuanya. Perkara cocok tak menjadi soal utama.

Senja telah cukup lama menunggu jatahnya dari siang. Seperti biasanya Mut masih menikmati karirnya di ladang. Sejak dua hari yang lalu ia menghujani ilalang yang tumbuh dengan racun semprot. Ilalang tak bisa dibasmi dengan merumput saja. Kokoh sekali ia meletakkan tanki penyemprot berisi berliter-liter air itu pada jiwa yang ringkih.

Gontai dengan sisa tenaga Mut pulang. Pikirannya masih berkelebat dengan keputusan suaminya yang ingin menikahi Rohana. Entah apa juga yang membawa ia pada pertemuan dengan Rohana di jalan menuju dusun.

Perempuan selalu kikuk untuk saling bertegur sapa jika terlibat pada jalinan nasib yang berkaitan. Nasib tertindas karena keberadaan mereka masing-masing sebagai perempuan berhadapan.

Kebekuan tak ingin lama hadir. Rohana membuka tuturnya, “Mut, kau sudah tahu rencana suamimu?” pancingnya lirih. Antara rasa bersalah dan takut ia ucapkan sebaris kalimat itu.

“Lantas?”

“menurut ko awei ipo?13)

“Aku perempuan yang tak membutuhkan lelaki sebenarnya! Suami bagiku tak lebih sebagai pemberian orang lain diluar hidupku, pemberian orang tua.” Mut menjawab perih. “Mungkin jawaban itu kasar bagimu…tak apalah anggapan itu.”

“Maafkan aku…, Aku tak bermaksud merebut suamimu.” Rohana menderaikan kepiluannya.

Rohana menarik satu nafasnya dengan berat. Wajahnya pun pias. Jika bukan tuntutan keadaan ia memang ingin berucap, bukan diam seperti selama ini. Rohana ingin menjadi dirinya sendiri walaupun anggapan itu tak pernah ada di benak orang lain. Ia memang mau dinikahi Badar, untuk semua itu ia memiliki satu alasan. Hanya ia sendiri yang tahu kegamangan kian merona dalam setiap pilihan. Perempuan seperti ia memang hadir untuk bertemu perih, pikir Rohana.

“Hei…hei…! Mengapa kau menangis? Tak patut perempuan seperti kita menangis. Jangan tunjukkan kekalahanmu!” Mud menatap wajah kuyup Rohana.

Bergegas Rohana berjalan. Ia tak sanggup menanggapi ketegaran perempuan semacam Mut.

“Aku akan memaksa orang tuaku untuk membatalkan lamaran suamimu.” serunya berbalik menatap Mut. Perih…

Mut memandang perempuan itu dengan galau. Kesan yang ditampilkan Rohana sangat aneh bagi Mut. Perempuan itu bingung mengapa ucapan yang ia lontarkan ditanggapi lain oleh Rohana.  Bukan Rohana juga yang merasa perih. Ia tidak pernah sendirian dicekam rasa itu. Rasa yang sama, saat ia juga dilamar Badar beberapa tahun yang lalu. Ia berteriak lepas memberi ruang untuk sesama perempuan di depannya. Agar angkasa dapat mereka terbangi berdua.

“Kalau aku bisa menerimamu sebagai madu, mengapa engkau tidak…! Yang kita butuhkan hanyalah status sebagai isteri. Tidak lebih…aku tak menolak kenyataan.” Kalimat itu meluncur tegas menghalau Rohana, lebih kepada pengharapan. Mut sadar ia juga perempuan yang dibentuk nasib…

Tak tahu Mut apa yang selanjutnya diperbuat oleh Rohana setelah pertemuan itu. Terlalu lelah ia berpikir untuk sebuah ketegaran karang yang ia miliki. Entah kekuatan apa pula yang ia miliki sampai sanggup berbagi untuk seorang perempuan lain, di rumah yang selama ini hanya ada sepasang ikatan perkawinan. Hanya saja Mut yakin bukan karena ia menghormati Badar, apalagi ingin memiliki lelaki itu selamanya.

“Perempuan sialan! Apa yang kau lakukan pada Rohana sampai orang tuanya harus membujuk lagi? Masih untung kau aku madu. Bukan aku ceraikan!.” Memerah muka Badar melihat wajah  Mut.

Angin memang selalu berhembus menyampaikan pertemuan dan pembicaraan yang tak kasat mata bagi Badar. Pertemuan tak sengaja di senja ketika Mut pulang dari ladang berhembus juga. Udara panas selalu hadir untuk dihembuskan pada kedamaian angin. Buah bibir yang memanas dari mulut orang sedusun yang jeli mengintai setiap episode perisitiwa.

Kali ini Mut ingin bersuara keras. Ia benci juga akhirnya ketegaran yang dipertahankannya. Bertahun-tahun perempuan itu membungkus ketertindasan dengan sekeping hidup sabar.

Mut menatap mata suaminya dengan tak kalah garang. Bisa yang ia simpan di lidah keluar juga. Meradang penuh …

“Kau pikir aku mencacinya?!” Ia mendongak tegak.

Harga diri Badar terinjak-injak melihat kelakuan isterinya yang selama ini tak berkutik. “Sudah berani kau rupanya…!” tersinggung sekali Badar mendengar Mut berkau-kau saja terhadap dirinya.

“Aku katakan padanya agar ia menerima saja ajakan nafsumu itu! Kami perempuan memang harus selalu begitu… mengalah untuk lelaki busuk macam Dang!” tajam sekali kata-kata Mut.

“Lalu mengapa ia menolak setelah kau temui, perempuan jalang?!”

Plak…! Sebuah tamparan membekas untuk Mut hamparkan di peta hatinya. Ia tidak akan menangis. Kalah, jika ia menderaikan bening emosi cengeng.

“Tak ada gunanya kau ada di sini lagi. Percuma kau kujadikan isteri tua nantinya. Pergi kau…!” Badar murka. Ia keluarkan semua taring yang ia miliki untuk menggigit magsanya itu.

@@@

Mut telah meninggalkan sarang tempat ia melabuhkan dirinya. Peduli apa ia dengan sebutan orang sedusun tentang kondisinya. Ia punya dua sayap untuk dapat terbang mengangkasa. Ia punya paruh untuk mematuk sehelai demi sehelai rumput kering untuk membuat sarang baru. Tampa pejantan sekalipun

Sebelum Badar menceraikannya ia telah lebih dulu mengangkat diri untuk sebuah kekalahan. Untuk sebuah hidup dengan jiwa yang bebas ia telah menggugat cerai suaminya. Orangtuanya boleh bicara ia perempuan tak tahu malu, perempuan pelawan kodrat sekalipun. Masyarakat boleh mengunjing segunung aib bagi janda seperti  Mut.

Mut kembali terlahir menjadi dirinya sendiri dengan membawa anak-anaknya serta. Ia juga mendengar jika Rohana akhirnya berhasil menolak lamaran Badar. Meskipun Rohana harus pergi merantau keluar dari dusun, menghindari paksaan orang tuanya.

Mut tersenyum untuk sebuah kemenangan yang dimiliki dua orang perempuan. []

                             Untuk sesosok perempuan kokoh, my mother…

         Catatan kaki:

1) menikah saja

2) lamban

3) kakak

4) bakul dari anyaman bambu yang digunakan dengan di sandang

5) kau suka suamimu tidak pulang, heh

6) orang Rejang, sebutan untuk salah satu suku di Bengkulu

7) lelaki itu

8) bungsu

9) arit, alat pemotong rumput

10) tidak bisa mengurus keluarga rupanya Mut itu

11) kotor, belepotan

12) orang lain tidak tahu

13) menurutmu bagaimana?

 


Posted at Monday, April 04, 2005 by flpbengkulu
Beri Komentar  

Monday, March 28, 2005
Profil Naqiyyah Syam

Mbak YaukBiodata Penulis :

Nama pena            : Naqiyyah Syam

Nama Lengkap      : Sri Rahayu

Nama Panggilan     : Yayuk

Tempat/Tgl Lahir    : Jambi, 17 Juli 1980

Agama                  : Islam

Hobby                   : Membaca, Menulis, Korespondensi, Adventure,Traveling, dll

Warna Favorite      : Biru

Pendidikan            : Mhs. Kehutanan Unib Ang 98 (Tinggal ujian skripsi lho!)

Alamat                  : Jl. Danau No. 15 Rt. 1 Bengkulu 38229

Telp : 0736-341532

HP : 08153906044

Rekening               : An. Sri Rahayu

Bank Mandiri Cabang Ahmad Yani No : 113-00-0215969

Atau Bank Muamalat Cabang Bengkulu No : 432.00177.22

Email                    : naqiyyah80@yahoo.com,



yayuk_forestry@telkom.net

    atau

flp_bengkulu@plasa.com

(khusus berkaitan tentang FLP BKL)

Prestasi Menulis :

-          Juara III Lomba Cerpen Islami FLP Se-Propinsi Bengkulu (2001)

-          Juara II Lomba Menulis Cerpen HIMIKOM (2001)

-          Juara II Lomba Menulis Cerpen Fosi (2002)

-          Juara III Lomba Menulis Essay Faperta Unib (2002)

-          Beberapa cerpen dimuat di Majalah Sabili, Koran RB, Cyber Sastra, Koran Lintas, Majalah Permata, dan beberapa Buletin lokal.

-          Tulisan bentuk Reportase, Artikel dimuat di Koran Rakyat Bengkulu.

-          Telah terbit Kumpulan Cerpen (KUMCER) Sumbagsel, KETIKA NYAMUK BICARA (Zikhrul Hakim, 2004)

-          Satu tulisan non fiksi, DI ANTARA DUA AMANAH, Buku Matahari Tak Pernah Sendiri, Kisah Seru Aktivis FLP (LPPH, 2005)

-          Satu cerpen dalam antologi Aceh (Terpasung Kenangan)  dan Milad FLP (Di Sini Ada Cinta), Lagi menunggu cetak!

Pengalaman Menulis       :

-          Reporter Kampus Media/Warta UNIB (2001-awal th 2003)

-          Editor Buletin KANOPI Kehutanan (2001)

-          Sekretaris Buletin TINTA FP (2001-2002)

-          Editor Buletin KALAM UKM-Rohis UNIB (2001-2002)

-          Redaktur Buletin AKSI KAMMI (2002-2003)

-          Redaktur Apresiasi Buletin Prestasi LSM Iqro Generation (2002-2003)

Pengalaman Organisasi :

-          Sekretaris Hima-Hutan FP Unib (2000-2001)

-          Angt. Kaderisasi KAMMI Komsat FP Unib (2000-2001)

-          Angt Media dan Informasi UKM-Rohis UNIB (2001-2002)

-          Agt Bidang I BEM Faperta (2001-2002)

-          Staff Humas KAMMI Daerah Bengkulu (2002-2003)

-          Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan (KPP) MPM (2002-2004)

-          Ketua FLP Wilayah Bengkulu (Periode 2003-sekarang)

-          Koor. FLP Se- Sumatera (Sejak Munas FLP I Th 2005)


Posted at Monday, March 28, 2005 by flpbengkulu
Beri KOment  

Tuesday, March 22, 2005
tulisan jelek

Meratapi (Ulang) Pendidikan Kita

 

Agusmantono*

 

Menjelang berakhirnya 100 hari pertama permerintahan SBY adalah waktu yang tepat untuk mulai meratapi (ulang) pendidikan kita. Betapa tidak, sampai sekarang belum ada terlihat langkah konkrit yang diambil presiden SBY untuk membenahi pendidikan kita yang terpuruk ini. Bahkan tercatat SBY baru bicara soal pendidikan hanya satu kali saja, yakni pada peringatan hari guru, 3 Desember tahun lalu. Padahal persoalan pendidikan Indonesia adalah masalah krusial yang harus segera diselesaikan.

Menurut laporan tahunan Human Development Index UNDP, Indonesia berada di posisi sangat memprihatinkan, yakni 111 dari 175 negara. Tragisnya, angka ini kalah jauh dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia yang berada di urutan 58, Thailand 76 dan Filipina 83. Adapun hasil survei tentang kualitas pendidikan di Asia yang dilakukan oleh PERC (The Political and Economic Risk Country) yang berbasis di Hong Kong, Indonesia menempati urutan ke-12 atau yang terburuk.

Berbicara rendahnya mutu pendidikan mau tidak mau kita pun harus berbicara tentang mutu guru. Bagaimana pun juga guru adalah pemegang kendali penting. Namun kita kembali harus menahan nafas, sebab mutu guru kita juga sangat memprihatinkan. Hasil penelitian Balitbang Depdiknas memperlihatkan nilai rata-rata tes calon guru PNS di SD, SLTP, SLTA, dan SMK tahun 1998-1999 untuk bidang studi matematika hanya menguasai 27,67 persen dari materi yang seharusnya. Sementara itu untuk bidang studi yang lain adalah Fisika (27,35), Biologi (44,96), Kimia (43,55), dan Bahasa Inggris (37,57). Angka-angka ini tentu sangat jauh dari batas ideal, yaitu minimal 75 persen agar seorang guru dapat mengajar dengan baik.

Dapat dibayangkan bagaimana mutu anak didik para guru itu nanti. Apalagi menurut penelitian Konsorsium Ilmu Pendidikan (2000), 40 persen guru SMP dan 33 persen guru SMA mengajar bidang studi di luar bidang keahliannya. Materi bidang studinya sendiri saja belum dikuasai, apalagi di luar bidang studinya?

Rendahnya gaji guru juga membuat mereka tidak konsentrasi penuh pada tugasnya. Tak heran jika sejak dahulu kala para guru kita sudah kreatif mencari tambahan, yakni Nyambi ojekan, menarik uang les privat, menjual buku-buku pelajaran, sampai jual makanan ke sekolah. Guru terpaksa berbuat seperti itu demi mengepulnya asap dapur mereka. Tidak salah memang, kesejahteraan guru Indonesia hanya setara dengan kondisi guru miskin di Afrika. Kita patut menutup muka karena malu jika membandingkan gaji guru kita dengan gaji guru di negara-negara tetangga semisal Malaysia, Brunei, dan Singapura. Demikian juga di Thailand, gaji guru sudah di atas 2 juta, di Vietnam saja sebesar 1 juta, di Laos, Burma dan Pakistan sebesar 700 Ribu. Tak usahlah melirik negara maju seperti Belanda yang menggaji gurunya antara 11-17 juta, atau Amerika sebesar 27-36 juta, dan Jepang sekitar 18 juta.

Rendahnya mutu dan tidak penuhnya konsentrasi guru di sekolah akan menghasilkan anak didik yang bermasalah pula. Karena tidak dapat perhatian penuh, mereka, kalau tidak lebih sibuk les privat di luar sekolah akan sibuk tawuran, narkoba, pergaulan bebas dan permasalahan krusial lainnya. Belum lagi dari sisi luar mereka memang digempur oleh perang peradaban (westernisasi) yang membuat moral mereka semakin bobrok. Sementara di sisi lain sekolah semakin membosankan karena guru sering telat, tidak masuk, dan tidak serius mengajar. Akhirnya guru tak lagi jadi sosok yang dihormati. Kasus guru dipukul siswa sudah bukan berita baru lagi.

Produk pendidikan seperti inilah yang nanti akan menggantikan sosok guru yang sekarang.  Merekalah yang akan menjadi guru bagi generasi yang akan datang, sebagaimana guru sekarang adalah produk pendidikan di masa lalu. Adakah kemungkinan guru di masa datang akan lebih baik dari sekarang?

 

Sekolah Tidak Diperlukan Lagi?

Mungkin karena kekecewaan terhadap mutu pendidikan, akhir-akhir ini kita semakin sering saja menjumpai kalangan yang pesimis dan bahkan cenderung anti terhadap sekolah. Sebut saja nama Andrias Harefa, tokoh antisekolah yang menawarkan model Manusia Pembelajar, yang tidak membutuhkan institusi khusus –terutama sekolah—untuk belajar. Andrias Harefa adalah orang yang kecewa terhadap pendidikan kita, yang alih-alih menjadi ajang anak untuk berkembang malah menjadi institusi pengebiri kreatifitas. Benar memang, minimnya kualitas guru dan rendahnya anggaran pendidikan membuat sekolah sulit untuk berkembang. Maka tak heran jika sekolah hanya menjadi tempat guru untuk menyebutkan apa-apa yang ia tahu, untuk kemudian harus dihapal oleh murid lantas ditulis ulang pada lembar jawaban saat ujian. Tak lebih dari itu. Tak ada kreatiftas, tak ada kecakapan hidup yang dicapai selain kecakapan menghapal, dan tentu saja tidak mengikuti perkembangan zaman.

Belum lagi masalah kurikulum kita yang memang memaksa anak untuk tidak bisa berkembang. Tipe kercerdasan yang dikembangkan di sekolah hanyalah kercerdasan lingusitic dan logis-matematis. Padahal menurut Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind, ada lima tipe kecerdasan lagi yaitu kecerdasan visual-spatial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik-tubuh, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Kecerdasan-kecerdasan ini semua telah dimandulkan oleh sistem bernama sekolah. Mereka yang tidak menonjol pada dua kecerdasan yang dikembangkan di sekolah langsung mendapat cap bodoh dan nilai terbakar di raport. Padahal setiap anak punya potensi yang sama untuk berkembang, namun memiliki gaya dan cara yang berbeda-beda.

Di luar negeri sono juga banyak orang yang kecewa terhadap pendidikan. Sebut saja Robert Tiyosaki yang menulis buku If You Want to be Rich and Happy, Don’t Go to School  yang sangat populer itu. Di sana saja – yang kualitas pendidikannya sangat tinggi—masih banyak orang yang mengeluhkan pendidikan, apalagi di negara kita ini? Pantas sekali memang jika beberapa bulan yang lalu terbit buku Kalau Mau Kaya, Ngapain Sekolah? karya mereka yang kecewa terhadap pendidikan, disamping puluhan buku senada yang ditulis oleh penulis yang SD, SMP dan SMA-nya di Bengkulu ini, Andrias Harefa.

 

Kurikulum Berbasis Kompetensi?

Menggantikan kurkulum 1994, pemerintah mengeluarkan kurikulum baru bernama Kurikum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum ini lebih menekankan pada penguasaan pengetahuan dan kecakapan hidup lulusan suatu jenjang pendidikan. Konon katanya lebih fleksibel dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Jika melihat kemampuan yang sedemikian terbatas guru-guru seperti yang telah diungkapkan di atas, kita kemudian pantas mengkhawatirkan keberhasilan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) ini. Bukankah kurikulum tersebut sangat menuntut kreativitas dan kemampuan bereksperimen, serta kemampuan guru mengembangkan diri selaras perkembangan zaman? Dengan masalah-masalah yang dihadapi guru kita, apa yang akan mereka kreasikan? Bagaimana mungkin mereka bisa mengembangkan diri dengan banyak membaca buku atau browsing internet, sementara untuk kebutuhan primer saja gaji mereka tidak cukup.

Maka tak perlu heran jika saat ini banyak para guru yang mengartikan KBK sebagai Kurikulum Banyak Kerja. Ya, kurikulum baru itu dirasakan memang banyak kerja. Apalagi guru-guru kita telah lama ‘banyak kerja’ di luar pekerjaannya, guna mencari tambahan gaji mereka yang sangat tidak seberapa.

 

Pembenahan Pendidikan, Segera!

Melihat kompleksitas permasalahan pendidikan kita, mau tidak mau pemerintah harus segera mengambil langkah untuk mengantisipasi. Harus segera diambil langkah revolusioner, kalau tidak ingin pendidikan kita bangkrut dan ditinggalkan. Namun sampai sekarang belum ada itikad baik pemerintah untuk menangani masalah ini. Amanat amandemen keempat UUD '45 pasal 31 yang menyatakan bahwa dana pendidikan Indonesia sebesar 20 persen dari total APBN masih belum dipenuhi. Miris sekali mendengarnya, sudah profesionalitas dan mutu guru sangat rendah, fasilitas sangat kurang, anggaran untuk memperbaikinya masih juga sangat rendah.

Janji SBY pada peringatan hari guru untuk membenahi pendidikan masih ditunggu-tunggu pembuktiannya. Mungkin pemerintah memang masih sibuk mengurusi soal Aceh, namun bagaimana pun juga masalah pendidikan kita juga tidak kalah penting dan tidak boleh diabaikan. Bukankah pendidikan adalah pilar utama kemajuan suatu bangsa? Jangan biarkan semakin banyak saja orang yang kecewa terhadap pendidikan! Jika pendidikan masih belum diperhatikan secara serius, maka kita wajib bersiap-siap meratapi kematiannya.

 

 

* Penulis adalah pemerhati pendidikan

aktifis UKM P3M Unib dan FLP Bengkulu.

Mahasiswa Pendidkan Bhs. Inggris FKIP Unib Smt. VI

Bengkulu, 20 Januari 2004


Posted at Tuesday, March 22, 2005 by flpbengkulu
Beri KOment  

Next Page
Assalamualaikum. Makasih udah sudi bertandang. Kalo mau ikutan ngisi kirim naskah via : lingkarpenaraflesia@yahoo.com
Kita mau muker neeh...!
Buat seluruh pengurus FLP Bengkulu : Kita mau mukerwil neh. Ayo semangat! Katanya mau ngundang pengurus pusat. Kudu serius nehh. jangan sampai kayak kasus Mbak HTR yang dibuku MTPS itu. Asli, gak boleh terulang lagi! Mari kita dukung Mas Liber sebagai ketua panitia. Semoga sukses!
Jumlah pengunjung:


Tinggalkan Jejak!
Plis deh ach...
buat anda yang sudah berkunjung ke sini, tolong tinggalkan jejak dengan mengisi buku tamu, atau paling tidak ngamen (ngasih komen) dikit di tag board. senang deh, kalau ada yang mau nyumbang saran.

Lihatlah Profil FLP Bengkulu sekarang. Klik di sini aja deh...
Tetangga-tetanga kita...
   

<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


Bengkulu Siap Jadi Tuan Rumah Upgrading Penulis FLP Se-Sumatera
Wah, kayak sok kepedean, ya? Tapi benaran lho, kami dari pengurus plus anggota FLP Bengkulu InsyaAllah siap untuk jadi pelaksana acara Upgrading penulis FLP Se-Sumatera. Sekarang lagi persiapan-persiapan neeh. Doain moga lancara ya...
Profil Elzamzami
'
'

Click here to join lingkarpena_sumbagselplus
Click to join lingkarpena_sumbagselplus



STUKTUR PENGURUS FLP WILAYAH BENGKULU PERIODE 2003-2005
Penasehat : 1. M. Syamlan LC 2. Sri Erliana, S.Pd 3. Herman Suryadi (Guru SDN 1/ penulis cerita anak) 4. drh. Agnes A. Majestika (penulis cerpen)
Ketua : Sri Rahayu Sekretaris : Meitin Yuniar Bendahara : Fatma
Divisi Kaderisasi : 1] Feriyansyah 2] Lipranto
Divisi Fiksi 1] Endang Sri Wulandari A 2] Elzam Zami 3] Idrus M
Divisi Non Fiksi 1] Mildaini 2] Rahmi
Divisi Jurnalistik & Media 1] Beni Adismal 2] Yahumri 3] Agusmantono
Divisi Dana dan Usaha 1] Freni Destama 2] Supriadi M. Liber

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed