Suskeskan Muswil, FLP Expo, Lomba-lomba + UPGRADING Penulis FLP Se-Sumatera di Bengkulu, Mei 2005


|Isi Buku Tamu| |Baca Buku Tamu| |Karya dan Komentar Pakar| |Profil Penulis||Agenda||Arsip Tulisan|




Tuesday, March 22, 2005
Cita-citaku tercapai lewat FLP

Cita-citaku Tercapai Lewat FLP

Bengkulu, 19 Februari 2005

Jelang Milad FLP ke-8,

 

 

Assalamu'alaikum Wr.Wb

 

Sejak SD aku emang suka seni dan dunia membaca, serta menulis. Masih terekam jelas, betapa Ayah suka sekali membelikan majalah padaku. Majalah Bobo, Ananda, Donal Bebek dan lainnya. Kadang sampai 3-5 majalah setiap bulannya. Ayahku juga senang membaca dan nonton berita. Kalo lagi baca koran pake kain sarung, maka aku senang berayun-ayun di atas sarungnya sambil menemani Ayah membaca koran. Korannya pun tak hanya satu. Tapi bermacam-macam. Lain kali dengan nonton berita. Ayah paling senang diskusi politik. Maklum mantan aktivis kali ye? Besar di Jogyakarta walau asli orang Bengkulu.

 

Bagiku, masa kecil kuhabiskan dengan membaca buku, dan berkesenian. Asal tahu aja, aku dulu paling aktif kesenian menari. Ada kelompok sendiri. Masuk ke sanggar tari. Itu dulu, sebelum hijrah. Sekarang no way! Walau sempat gimana gitu lho kalo dengar suara gendang. Serasa ingin mencari gerakan baru untuk meliukkan tangan. Cee...Insyaf, Yuk!

 

Menjelang remaja, aku mulai tertarik dunia menulis. Mulai berkorespondensi. Kukirim biodata ke Majalah Sahabat Pena. Tak disangka. Beratus surat hadir di depan mata. Kalo dulu dihitung hampir 1000 surat. Ibu dulu dengan rapi mencatat asal surat dari siapa saja dalam sebuah buku. Pak Pos saja sampai hapal. Gimana tidak, 10 buah surat dalam sehari datang ke rumahku.

 

Aku juga senang pelajaran Bahasa Indonesia (BI). Adalah Ibu Dam, guru BI SMPN 6 Bengkulu tempatku mengenyam pendidikan yang memberikan semangat luar biasa. Saat itu aku ikut lomba menulis opini di SMP. Aku juara ke-3 walau hanya 4 orang pesertanya (he..he), karena minat menulis waktu itu sangat rendah. Aku juga buat kelompok drama dan membuat naskahnya untuk dilombakan antar kelas di bulan bahasa (Oktober), walau tidak menang. Hiks!

 

Sejak itu, aku selalu berkeinginan menjadi sarjana sastra atau apa pun yang berhubungan dengan dunia menulis. Apalagi waktu SMP aku sudah kenal Annida,. Aku paling senang baca Cerbung Kembara Kasih. Sering kuulang dan tersimpan rapi di Perpustakaan Ar-Rahmaan, di rumahku. Keinginanku begitu besar untuk masuk Jurusan Bahasa waktu kelas 3 SMA. Tapi keluargaku tak ada yang setuju. Harus IPA! Lebih bergengsi kali ye? Dengan berat hati aku ikuti saja, kebetulan aku nggak bodoh-bodoh amat di Bidang IPA. Waktu itu, Pelajaran Kimia jadi favoritku, walau gurunya killer abis!

 

Ketika ujian PTN, aku pun bersikeras untuk masuk ke jurusan Bahasa dan Sastra di Unib. Keluargaku ngotot masuk Fakultas Pertanian. Terutama Ibu ingin anaknya yang bungsu ini jadi sarjana pertanian, karena ke-4 kakakku sarjana di lain Fakultas  tersebut. Ada yang Fisipol, Hukum, Ekonomi dan Akademi Perindustrian Jogyakarta.

 

Jadi, pas ikut tes, aku sendiri sedang sakit dan tidak mood belajar. Pas pengumuman pun aku tak bersemangat lihat koran. Tapi, ternyata Lulus! Masuk Jurusan Kehutanan (Pilihan pertama) atas desakan kakak-kakakku, uhhh...dianggapnya masuk kehutanan banyak uang? Jadi bos kayu? Ya...lagi-lagi kunikmati juga. Karena kulihat Ibu paling gembira. Karena selain lulus Unib, aku juga lulus AKPER, swata maupun negeri. Atas saran Ibu, aku pilih Kehutanan Unib.

 

Hari berganti hari, berbulan, tahun dan... sekarang? Aku menemukan cita-citaku kembali. Aku bisa jadi wartawan kampus walau anak kehutanan, jadi penulis cerpen, bisa mengenal dunia tulis menulis secara menasional, cerpen, esai, puisi, reportase dan sebagainya hingga bermuara di Forum Lingkar Pena (FLP).

 

Di FLP, aku bertemu penulis-penulis yang selama ini aku impikan. Mereka pun memberikan 'penghargaan' bahwa aku bisa berkiprah di dunia Sastra. Dunia yang selama ini tak kudapati di bangku kuliah. Aku bertemu dengan Mbak Helvy Tiana Rosa, Pipiet Senja, Asma Nadia, di tingkat Nasional. Di Bengkulu pun aku bertemu Pak Herman Suryadi, Mbak Agnes A. Majestika, Bang Syamsu Indra Usman HS dan Yetti A.K.A dan sebagainya. Mereka penulis yang juga berjaya secara nasional. Kini, tak jarang, aku diminta memberikan pelatihan atau motivasi menulis. Kudu baca teori menulis lagi neh! Belajar lagi dan aku kini mendapatkan ilmu dobel. Kehutanan dan Sastra. SubhanaAllah! Akhirnya cita-cita itu tercapai di FLP. Walau tak kuliah di bidang Sastra. Kini usia FLP sudah 8 tahun. Aku masih setia padamu sejak tahun 2000 aku bergabung. Ohh...FLP ku sayang, I Love You, FLP!

 

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Met Milad FLP-ku sayang,

Naqiyyah Syam - Bengkulu


Posted at Tuesday, March 22, 2005 by flpbengkulu
Beri KOment  

Resensi Buku MTPS

Matahari Tak Pernah Sendiri

(Di Antara Keberhasilan FLP Bengkulu Menjadi Nominator Penerima Anugerah Pena FLP 2005)

 

 

Oleh : Herman Suryadi *)

 

 

Matahari Tak Pernah Sendiri (MTPS) adalah judul buku yang berisikan Kisah Seru Aktivisi Forum Lingkar Pena (FLP), termasuk yang berasal dari Provinsi Bengkulu. Buku MTPS yang disusun oleh Helvy Tiana Rosa (Ketum FLP) diterbitkan oleh PT. Lingkar Pena Kreativa tahun 2004 setebal 230 halaman.

 

Buku MTPS memberikan informasi kepada pembacanya tentang organisasi FLP merupakan organisasi kepenulisan yang berdiri sejak tahun 1997, tepatnya tanggal 22 Februari 1997. setelah 8 tahun berdiri, organisasi yang peduli pada kelahiran penulis baru tersebut, telah beranggotakan lebih dari 5000 orang, memiliki lebih dari 120 cabang kepengurusan di seluruh Indonesia dan mancanegara, menerbitkan lebih dari 400 buku, bekerja sama dengan lebih dari 20 penerbit selain memiliki penerbitan sendiri.

 

FLP aktif melakukan kampanye gemar membaca dan menulis dari kota sampai pelosok desa dan hutan, di kalangan pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, karyawan, petani hingga buruh pabrik, dengan segala keterbatasannya, FLP  mendirikan "Rumah Cahaya" (Rumah baCA dan HAsilkan karYA) di beberapa tempat di Indonesia. Di Rumah Cahaya para anak dan remaja, khususnya kalangan dhuafa, mendapat bimbingan untuk menulis secara gratis

Dalam buku MTPS ini, Anda akan mengetahui segala sesuatu mengenai FLP, para anggotanya, suka-duka dan berbagai kegiatan mereka yang kadang tak terbayang, namun sangat berkesan dan menyenangkan. Terdapat 54 judul kisah. Dari 54 terdapat 2 judul kisah di Kota Bengkulu, yaitu  Kisah Seru di Bengkulu (Helvy Tiana Rosa) dan Di Antara Dua Amanah (Sri Rahayu).

 

Kisah Seru di Bengkulu adalah pengalaman langsung Helvy Tiana Rosa, sang ketua umum FLP Pusat saat ia datang ke Bengkulu dalam rangka seminar dan juri sayembara cerpen. Itu terjadi, Maret 2001 waktu itu FLP Bengkulu masih diketuai Imam H (Sekarang Sri Rahayu). Kisah seru yang ditulis mulai dari tikus yang menganggu saat tidur malam, ongkos tiket pesawat yang di bon dulu, hingga nginap di hotel X yang sebenarnya banyak pekerja seks-nya berseleweran.

 

Judul kedua, "Di Antara Dua Amanah" yang ditulis Sri Rahayu (Ketua FLP Bengkulu) sangat duka. Perjuangannya di Rumah Sakit M. Yunus Bengkulu karena Ibunya sakit, sementara acara LEMPUK DURIAN yang diadakan FLP Bengkulu sudah dekat. Walau bisa didelegasikan ke anggota yang lain, namun SMS dari Hpnya selalu berdering karena panitia banyak yang bingung.

 

Meskipun Sri Rahayu telah berusaha meminta izin untuk menyempatkan hadir pada acara FLP itu, namun ketetapan Allah jua, Ibunda tercinta yang selalu memberinya insiparsi bagi keberadaannya di FLP, akhirnya meninggal dunia. Tepat saat acara FLP itu, tanggal 7 September 2003.

 

 

*) Penulis dilahirkan di Bengkulu, 16 Juni 1960. Saat ini bekerja sebagai guru SDN 1 Bengkulu. Beliau mengantongi 13 penghargaan kepenulisan.


Posted at Tuesday, March 22, 2005 by flpbengkulu
Beri Komentar  

Bengkulu jadi nominator wilayah terbaik

Bengkulu Masuk Nominator FLP Pena Award

 

Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Bengkulu dinilai cukup sukses mengerakkan orgasisasi kepenulisan di daerahnya. Buktinya masuk nominator Anugerah Pena (Pena Award) FLP 2005 kategori FLP Wilayah Terpuji yang akan diumumkan pemenangnya pada acara puncak Milad ke-8 FLP, 25 Februari 2005 mendatang di Yogyakarta. Acara tersebut merupakan rangkaian acara Musyawarah Nasional (Munas) FLP pertama sejak 8 tahun berdiri. Selain Bengkulu, nominator lainnya yang terpilih adalah FLP Wilayah Aceh dan Hongkong. Ketiga nominator tersebut tersaring dari sekitar 35 cabang dan 25 ranting FLP yang tersebar di 100 kota di seluruh Indonesia dan juga mancanegara (Mesir, Eropa, Jepang, Hongkong, Amerika, Singapura dan Belanda).

 

"Saya bahagia mendapat berita ini lewat email, Bengkulu masuk nominator, itu sudah cukup bagus. Tidak menduga. Karena kami bergerak dengan sukarela, minim dana, tapi semangat tetap ada. Semua berkat kerjasama teman-teman. Saya sendiri tidak mengetahui penilaian dari FLP Pusat. Kok Bengkulu bisa dinilai bagus mengalahkan FLP Wilayah yang sudah banyak karya seperti di Yogya, Kaltim atau pun Sumatera Selatan," ujar Sri Rahayu Ketua FLP Wilayah Bengkulu.

 

Organisasi kepenulisan yang berdiri sejak tahun 1997 ini akan memberikan beberapa Anugerah Pena  lainnya seperti : kategori novel terpuji, novel remaja terpuji, kumpulan cerpen terpuji, kumpulan cerpen remaja terpuji, kategori non fiksi, kategori kaver buku terpuji, kategori penulis pendatang baru terpuji, kategori FLP Wilayah terpuji dan peraih penghargaan khusus Anugerah Pena.

 

Pada acara 8 Tahun FLP Berkarya tersebut,  selain pembagian Pena Award, FLP juga akan mengumumkan pemenang lomba menulis cerpen, novel dan artikel.  Acara tersebut akan dihadiri oleh para penulis fiksi, non fiksi dan jurnalistik. Diantaranya Helvy Tiana Rosa, Pipiet Senja, Boim Lebon, Asma Nadia, Gola Gong, Jamal D Rahman, Hernowo, Halfino Berry, Fahri Asiza, dan masih banyak lagi.

 

(Dimuat Di Koran Lintas Bengkulu, 18 Februari 2005

Posted at Tuesday, March 22, 2005 by flpbengkulu
Beri Komentar  

Wednesday, February 16, 2005
Jomblo? Ayo siapkan lebih matang buat nikah!

 By: Naqiyyah Syam*)

 

Ngejomblo! Wah….ada suka dan dukanya! Yang jelas….mulai kunikmati hari-hari yang penuh arti dengan persiapan yang lebih matang. Emm…sebenarnya dulu hampir deh melepas masa jomblo.Tapi…ya…nggak jodoh sih! Nah ceritanya begini…

Semester 7 aku dikejutkan dengan kehadiran seorang laki-laki. Dia berniat meminangku. Oh la la….rasanya mimpi rek! Bahagia? Ada sih, takut juga ada. What happen? Aku mulai panik karena tanpa persiapan apa-apa. Aku mulai bertanya pada diri sendiri : benarkah aku sudah siap menikah? Oooh…jauh sekaleee! Aku terlena dengan sibuknya organisasi. Semua kuikuti dan rata-rata aktif jadi pengurus. Mulai dari Rohis Universitas, BEM, Buletin dakwah ampe 3 buah, bina rohis SMUN 4, KAMMI, FLP dan sebagainya. 

Nah, dalam kamusku saat itu, kata menikah masih sangat tabu dan tak pernah terbayang akan diajak nikah diusia 21 tahun. Nah lho? Rezeki kah? Sejak itu aku mulai ‘haus’ akan ilmu persiapan pernikahan. Dari buku Kupinang Engkau Dengan Hamdalah karya Muhammad Fauzil Adhim sampai dengan buku Pernik-pernik Rumah Tangga Islami karya Cahyadi Takariawan menjadi penghias di rak bukuku. Dulu, jangan ditanya, buku tarbiyah, fiksi dan kehutanan saja anggotanya.

Sejak itu aku mulai mencoba membuka mata tentang persiapan pernikahan. Diawali dengan membaca buku-buku dan akhirnya membuat cerpen tema pernikahan. Cerpen pertamaku bertema pernikahan berjudul “Sudahkah Tiba Waktunya” dimuat di Buletin Rohis Unib membuat heboh para aktivis LDK (lembaga Dakwah Kampus). Aku sendiri kaget tak mengira sambutan mereka semeriah itu. Bahkan mantan ketua rohis yang sekarang menjadi dosenku saja sempat bilang : “Yuk, makasih yah atas cerpennya!” nah lho! Kayaknya cerpenku benar-benar menyentuh para aktivis LDK untuk mempersiapkan bekal menikah dan jangan asal sibuk di organisasi saja. Duuuh… seneng, Alhamdulillah cerpenku bermanfaat.

Setelah cerpen tema pernikahan perdana itu, adik-adik tingkatku satu persatu curhat mengenai ‘virus merah jambu’ mulai deh aku jadi psikolog dadakkan! Ada yang konsultasi bagaimana menjaga hati sampai bagaimana cara PDKT dengan ortu tentang pernik-pernik walimahan Islami. Aku sendiri tak tak tau dari mana awalnya, mereka jadi seneng dan nyaman curhat tentang persiapan pernikahan padaku. Soo…aku baru sadar, aku harus tambah ilmu lagi dan bekal banyak tentang ‘menuntaskan masa jomboku kelak’.

Tak cuma adik tingkat lho yang curhat. Teman seangkatan, kakak-kakak tingkat banyak yang ingin tahu seluk-beluk masa ta’aruf. Berbekal ilmu dan pengalaman aku mulai satu persatu menyelesaikan masalah mereka. Kisah yang berkesan adalah cerita seorang teman akrabku. Dia datang ke rumah dengan wajah Be-Te berat! Dia bingung ada teman yang mengajak menikah. Bagaimana cara mengenal laki-laki itu lebih dalam, baik pengetahuan agamanya, visi dan misinya dan keluarganya, sedangkan keduanya sangat jarang berdiskusi kecuali masalah pekerjaan saja (mereka satu kantor). Aku mulai memberi penguatan padanya dan menawarkan diri menemani mereka ta’aruf. Lalu aku bertiga (dia, aku dan sepupunya) menemui laki-laki itu di sebuah masjid kota Bengkulu untuk berdiskusi, mencari tau siapa sih sosok ‘lelaki itu’. Setelah proses keluarga dan sebagainya. Tak lebih dari 5 bulan, Alhamdulillah mereka akhirnya bersatu, menikah. Sungguh, aku bahagia menemaninya disaat ‘gamang diambang pernikahan’.

Kini usiaku menjelang 25 tahun. Satu per satu teman seangkatanku melepas masa jomblonya. Ada rasa nano-nano saat menghadiri walimahan mereka. Tapi kini aku mulai merencanakan lebih matang untuk menikah. Tak cuma mental, jasadiyah, fikriah saja. Tapi mimpi membangun rumah tangga Islami telah bermain-main dipelupuk mata. Aku mulai mengisi hari-hari dengan berkarya lebih banyak, salah satu yang sedang kugarap saat ini adalah membuat Kumcer tema keluarga, membuat Bengkel Menulis (BM) FLP, menanggani rubrik Sastra di Koran Rakyat Bengkulu (RB) dan mengejar setoran hapalan qur’anku yang sempat ku nomor sekiankan setelah urusan skripsi (ups…kudu estafet nih!).

Menurutku, hari-hari ‘penantian sang arjuna’ terasa lebih bermakna bila diisi dengan gembira. Tambah hapalan qur’an, banyak baca buku tentang psikologi masalah keluarga (aku hobby mengklipingnya lho!), latihan mengatur uang belanja. Oia, ada resep dari ortu : uang 1 bulan dibagi dalam 30 amplop. Jadi 1 hari buka 1 amplop. Kita bisa menghemat uang belanja, jangan keluar dari 30 amplop untuk 30 hari (1 bulan) dan….tak lupa praktek resep masakan! Buat persiapan menyenangkan hati suami euy! He..he…, bahkan aku pengen banget lho ikut kursus menjahit. Biar hemat dan bisa design sendiri baju keluarga nanti. Kan keren tuh pas lebaran 1 stel pakaian hasil jahitan sendiri. Apalagi aku bermimpi pengen banget punya anak kembar. Wahh…lucu yah?

So, jomblo? Jangan dibawa stres deh! Anggap semua masa ‘karantina’ persiapan menjelang pernikahan. Bawa bekal yang banyak. Ibadah yang kuat. Karena menjelang usia rawan, jelas….banyak godaan dan jangan sampai niat untuk menikah punah bersama rasa kecewa dalam penantian yang kita sendiri tak tau ujung akhirnya.       Yakinlah : kita menikah pasti dengan jodoh kita.

 Jomblo? Emm…kudu disi dengan yang bermanfaat deh! Awas jangan sampai nyesel friends!

 

*) Penulis adalah Ketua FLP Wilayah Bengkulu. Kelahiran Jambi, 17 Juli 1980. Karyanya pernah dimuat di Majalah Sabili, Permata, Koran RB, Cyber sastra, Koran Lintas, dan dalam Antologi Kumcer FLP Sumbagsel KETIKA NYAMUK BICARA, Zikrul Hakim, Jakarta-2004.

 

Ket : Naskah ini dikirim untuk buku Kumpulan kisah Jombla dan Cinta, sebagai koordinatornya Mbak Asma Nadia


Posted at Wednesday, February 16, 2005 by flpbengkulu
Beri KOment  

Tuesday, January 04, 2005
New Release

Assalamualaikum warahmatulahiwabaraktuh.
Para pengunjung sekalian. Silahkan menikmati update terakhir dari situs ini. Ada banyak puisi-puisi karya penulis Bengkulu yang telah pernah dimuat di HArian Rakyat Bengkulu, kini dapat anda nikmati beserta pembahasannya oleh sastrawan kondang Bengkulu, Herman Suryadi. Silahkan klik di sini. Anda juga dapat menikmati cerpen-cerpen karya penulis Bengkulu di halaman tersebut.

Kami mohon maaf jika situs ini masih belum sempurna danmasih dalam tahap pengembangan. Kami tengah mempersiapkan perubahan situs berbasis weblog ini menjadi situs web yang lebih baik. segala kritik dan saran sangat kami harapkan.
wassalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh.


Posted at Tuesday, January 04, 2005 by flpbengkulu
Beri Komentar  

Tuesday, December 21, 2004
Cerita yang Bikin Malu Penulisnya

By: Agusmantono

Berikut ini saya ingin berbagi resep bagaimana mengetahui suatu tulisan termasuk pornografi atau tidak. Resep ini saya tulis berhubung belakangan ini banyak yang mempertanyakan bagaimana suatu tulisan bisa dikategorikan pornografi atau bukan. Banyak yang tidak tahu apa indikasi sesuatu bisa dikatakan porno.

***

Pada suatu kesempatan saya mengikuti suatu lomba cerpen tingkat nasional, saya bertemu dengan salah seorang peserta dari kota pempek, Palembang. Kami berkenalan dan ngobrol beberapa saat. Kebetulan dia berdua dengan seorang temannya, dan saya juga dengan seorang teman saya. Topik yang kami bicarakan berempat-- karena sama-sama mengikuti cabang lomba cerpen-- adalah masalah cerpen kami masing-masing. Dia tanya judul cerpen yang saya perlombakan. Saya jawab, "Malu, abis jelek." Saya balik minta dia cerita tentang cerpan dia.

Tadinya saya kira dia bakal menolak menceritakan tentang cerpen dia, sebagai aksi balas dendam akan sikap saya yang tak mau cerita soal cerpen saya. Tapi ternyata dia mau. "Judul cerpen saya Pesan Bulan," katanya. "Ceritanya tentang...," dia tersenyum-senyum."Ah, malu akh!" lanjutnya.

"Lho?"

"Habis ceritanya agak-agak 'panas'," katanya.

Saya langsung berfikrian macam-macam. Panas? emang kompor?

Setelah cukup lama akhirnya saya tahu bahwa cerpen yang ditulis cewek Palembang tersebut emang benar-benar panas, seperti dia bilang. Ceritanya tentang seorang perempuan bernama bulan, yang menyalahgunakan fungsi Handphone sebagai (maaf, seribu maaf) alat penggetar/vibrator untuk memuaskan birahinya.

Belum sempat selesai perempuan itu menceritakan cerpennya, saya langsung meng-cut. bukan apa-apa, soalnya saya kasihan melihat mukanya yang sudah jadi kayak kepiting rebus setiap kali hendak menyebutkan kata-kata/istilah yang agak 'keramat'. Juga temannya yang pakai jilbab sudah sejak awal selalu menunduk nggak berani ngangkat kepala. Sedangkan saya dan teman saya sendiri berkali-kali coba menebalkan muka, manahan malu. Innalillahi. saya fikir kami berempat akan terus tersiksa kalau saja si-cewek nekat menyelesaikan ceritanya, makanya saya buru-buru bilang, "Ya udah deh, nggak usah diterusin. bahaya!" kata saya.

Mengingat kejadian itu saya jadi ingat kontroversi mengenai tulisan-tulisan berbau perkakas reproduksi yang membanjiri bursa sastra idonesia belakangan ini. Ada banyak tokoh menolak mengatakan bahwa novel-novel sealiran Ayu Utami itu adalah porno. Mereka berdalih bahwa pornoitas (wah, istilah darimana nih?) suatu karya sastra itu tidak jelas batasannya. Apa indikator suatu karya sastra bisa dikatakan porno? bukankah itu tergantung pada pembacanya sendiri? Jika sang pembaca memang berotak kotor, nisacya apa yang dia baca akan cenderung bernilai 'kotor'. Juga sebaliknya.

Di FLP Bengkulu saya menjadi salah seorang tutor dalam kegiatan Bengkel Menulis FLP. Pernah suatu ketika kami membahas salah satu cerpen karya peserta BM-FLP.saat saya suruh dia membacakan cerpennya di depan forum, dia menolak. Malu, katanya. Nah lo! kamu yang nulis, kok kamu yang malu? piye toh?

Ya memang, cerpen yang ditulis salah seorang peserta itu agak rada-rada 'panas' juga. walaupun sebenarnya pesan yang hendak disampaikan bagus sekali. Cuma, mungkin karena masih pemula, dia kurang mampu memperhalus bahasa, sehingga segala sesuatu ditulis apa adanya. istilah-istilah disebut tepat-tepat sesuai aslinya. Juga deskripsi proses yang sebenarnya tidak terlalu urgen digambarkan. Saya tidak tahu, apakah Ayu Utamie dan teman-teman sealirannya juga tergolong pemula, sehingga belum bisa memperhalus bahasa.

Akhirnya, karena si penulis malu membacakannya di depan orang banyak, cerpen tersebut difotokpi dan dibagi kepada pembaca, untuk dibaca sendiri. Diskusi pun akihirnya menjurus pada bagaimana memperhalus bahasa sehingga tidak terkesan vulgar.

Selesai diskusi itu saya lalu menemukan jawaban atas pertanyaan, apa indikator tulisan bisa disebut porno/tidak. resepnya: rasakan sendiri olehmu!

Setiap penulis pasti dapat melinali sendiri tulisannya? Jika apa-apa yang ia tulis membuat ia sendiri malu membacanya, bukankah itu satu indikasi kalau tulisannya mulai tidak beres? seperti teman saya dari Palembang yang malu menceritakan cerpen 'pesan bulan' yang ia tulis kepada kami, bukankah ia sendiri sadar kalau cerpennya tidak enak dibaca, kecuali sambil sembunyi di kamar, jauh dari orang lain. Ia juga tahu kalau seandainya cerpennya dibukukan, buku tersebut harus diberi label: JAUHKAN DARI JANGKAUAN ANAK DAN REMAJA! agar orang tidak menaruhnya sembarangan sehingga tidak dibaca oleh pembaca 'dibawah umur'. (weleh-weleh.., lantas apa bedanya dengan buku stensilan semisal nick carter, fredy  s. etc)

Kalau apa-apa yang kita tulis membuat kita sendiri malu membacanya, kita tidak ingin ibu atau adik perempuan kita membacanya, kita tidak enak memperlihatkannya kepada orang yang kita hormati...., lebih baik kita tidak usah melanjutkannya. Sebab, itu adalah salah satu indikasi kalau tulisan kita mulai berbau pornografi. orang yang membacanya pasti demikian juga. Mereka hanya akan berani membacanya ketika tidak di depan orang banyak, melainkan sembunyi-sembunyi di kamar, mungkin memang dengan maksud tertentu pula.

Demikian resep yang saya ketahui untuk mengetahui tulisan yang kita buat termasuk tulisan pornografi atau tidak. Tapi tentu saja, resep ini tidak berlaku untuk orang yang sudah putus urat malunya. Bagi orang-orang seperti ini, perlu minta bantuan orang lain untuk menilai tulisannya. Tapi jangan pilih orang-orang yang juga sudah putus urat malunya, ya...

 

Bengkulu, 21-12-04 (Ini aku belajar menuliskan opini. Maaf kalau tidak berkenan. wassalam.)


Posted at Tuesday, December 21, 2004 by flpbengkulu
Beri Komentar  

Wednesday, December 15, 2004
Lomba Novel DAR Mizan


Sayembara Menulis Novel DAR! Mizan 2005

 

Mimpi menjadi penulis kenamaan dan terkenal? Siapa takut? Sekarang juga kejar impian Anda dengan menuangkan ide-ide cemerlang Anda dalam tulisan Fiksi dan ikutkan dalam Sayembara Menulis Novel DAR! Mizan 2005 dan jadilah penulis hebat bersama DAR! Mizan. Total Hadiah Rp 45 juta rupiah!

Selengkapnya


Posted at Wednesday, December 15, 2004 by flpbengkulu
 

Previous Page
Assalamualaikum. Makasih udah sudi bertandang. Kalo mau ikutan ngisi kirim naskah via : lingkarpenaraflesia@yahoo.com
Kita mau muker neeh...!
Buat seluruh pengurus FLP Bengkulu : Kita mau mukerwil neh. Ayo semangat! Katanya mau ngundang pengurus pusat. Kudu serius nehh. jangan sampai kayak kasus Mbak HTR yang dibuku MTPS itu. Asli, gak boleh terulang lagi! Mari kita dukung Mas Liber sebagai ketua panitia. Semoga sukses!
Jumlah pengunjung:


Tinggalkan Jejak!
Plis deh ach...
buat anda yang sudah berkunjung ke sini, tolong tinggalkan jejak dengan mengisi buku tamu, atau paling tidak ngamen (ngasih komen) dikit di tag board. senang deh, kalau ada yang mau nyumbang saran.

Lihatlah Profil FLP Bengkulu sekarang. Klik di sini aja deh...
Tetangga-tetanga kita...
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


Bengkulu Siap Jadi Tuan Rumah Upgrading Penulis FLP Se-Sumatera
Wah, kayak sok kepedean, ya? Tapi benaran lho, kami dari pengurus plus anggota FLP Bengkulu InsyaAllah siap untuk jadi pelaksana acara Upgrading penulis FLP Se-Sumatera. Sekarang lagi persiapan-persiapan neeh. Doain moga lancara ya...
Profil Elzamzami
'
'

Click here to join lingkarpena_sumbagselplus
Click to join lingkarpena_sumbagselplus



STUKTUR PENGURUS FLP WILAYAH BENGKULU PERIODE 2003-2005
Penasehat : 1. M. Syamlan LC 2. Sri Erliana, S.Pd 3. Herman Suryadi (Guru SDN 1/ penulis cerita anak) 4. drh. Agnes A. Majestika (penulis cerpen)
Ketua : Sri Rahayu Sekretaris : Meitin Yuniar Bendahara : Fatma
Divisi Kaderisasi : 1] Feriyansyah 2] Lipranto
Divisi Fiksi 1] Endang Sri Wulandari A 2] Elzam Zami 3] Idrus M
Divisi Non Fiksi 1] Mildaini 2] Rahmi
Divisi Jurnalistik & Media 1] Beni Adismal 2] Yahumri 3] Agusmantono
Divisi Dana dan Usaha 1] Freni Destama 2] Supriadi M. Liber

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed