Suskeskan Muswil, FLP Expo, Lomba-lomba + UPGRADING Penulis FLP Se-Sumatera di Bengkulu, Mei 2005


|Isi Buku Tamu| |Baca Buku Tamu| |Karya dan Komentar Pakar| |Profil Penulis||Agenda||Arsip Tulisan|




Friday, July 01, 2005
Siska punya cerpen

                                                Rahasia  Seorang Jean                  

Sisk@_Rusm@n

 

            Gadis itu menghentikan pena, sejenak melirik ke jam dinding kamarnya.  Puih! sudah hampir pertengahan malam.  Tapi tugas Bahasa dan sastra membuat cerita pendek dari Ibu Mufidah belum juga rampung dikerjakannya.                                                                   Otaknya sudah diambang kejenuhan.  Akan jadi apa cerita ini? Seakan pasrah ia pun merebahkan tubuh ke atas dipan. Peristiwa yang menimpa orang-orang yang dikenalnya beberapa waktu yang lalu membuat kesan tersendiri di hatinya.

                                                                        ***

            “Jean, nanti habis sekolah langsung pulang ya? Mama harus ke rumah tante Mia” Mama berpesan.  Jean yang sedang memakai sepatu hanya mengangguk. 

“Oya, jangan lupa singgah ke toko wak Ali belikan susu untuk Bayu!” Mama menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan. 

Jean menerima uang tersebut dan segera menyimpannya didalam dompet.  Gadis itu segera mencium tangan sang bunda takzim kemudian mencium pipi Bayu yang berada dalam gendongan Mama.  Bocah setahun setengah itu hanya tergelak-gelak ketika ia berhasil menarik kerudung Jean.

“Jangan sampai lupa ya?” sekali lagi Mama mengingatkan sebelum Jean benar-benar melangkah keluar rumah.

            “Ya Ma!” Jean tersenyum sambil melambaikan tangan pada Bayu.

            Jean mengerti jika Mama pergi ke rumah tante Mia Bayu pasti tak ada yang jaga.  Rumah sahabat Mama itu terletak di selatan kota Bengkulu, untuk kesana harus 2 kali ganti angkot yang setidaknya membutuhkan waktu kira-kira 1,5 jam pulang pergi.

Akan terlalu merepotkan jika harus membawa balita sendirian.  Selain itu Mama sungkan sekali dengan kebaikan tante Mia.  Wanita budiman itu selalu saja membekali Mama macam-macam jika Bayu dibawa. 

                                                            ***

            “Jean, tugas Biologi beres?” Cica sudah berdiri di samping bangku Jean.  Wajahnya kusut seperti seragam yang belum disetrika.  Jean mengangguk menatap sahabatnya itu. 

            “Pinjam dong!” Cica menghempaskan tasnya asal.

“Loh? Kamu belum, Ca?” Jean bertanya heran.  Setahunya Cica termasuk yang paling rajin membuat tugas dan yang paling anti nyontek pekerjaan orang lain.

“Ceritanyo kelak, kini pinjam PR dulu!” Cica melirik alba di lengannya.  15 menit lagi bel. Membayangkan wajah angker Pak Sihombing membuat Cica bergidik apalagi jika ingat hukuman yang akan diterimanya. Membuat organ tubuh manusia lengkap!    

            “Tapi, kamu serius kan Ca?” Jean kembali bertanya sebelum buku itu berpindah tangan.  

            No more question honey!” Cica  meraih buku big boss Jean cepat dan langsung menyalin.

                                                                        ***

            “Aldo buek palak aku pening tujuh keliling!” Cica memulai ceritanya di kantin ketika istirahat pertama.  Ditusuknya satu pentol bakso dan menggigitnya.  Wajah putih tun-jang itu makin merah menahan pedas.          

             Jean ingat, Aldo anak abang Abas, kakak kedua Cica yang bekerja sebagai Kapolsek di kota ini.  Keponakan-keponakan Cica memang banyak.  Mereka sering dititipkan di rumahnya jika kebetulan orang tua mereka sedang dinas keluar kota. 

            Ngapo? Jadi baby sitter lagi? Main PS sampai jam berapa?” Kinanti sudah bisa menduga.  Pasalnya keponakan sobatnya yang satu itu meski baru berumur lima tahun maniak Play Station.  Mainnya bisa berjam-jam dan parahnya harus ditemani. 

Cica mengangkat jari telunjuknya menyimbolkan angka satu, “Hebat kan?”  Mimiknya sebel.   

            “Terus?” kejar Jean.

            “Bayangin ya! Jam dua belas malam aku disuruh Bobo-ho itu bikin mie goreng, ayam goreng kentucky dan buat susu!” karena tubuh Aldo yang gendut, putih mirip pemain cilik dari Hongkong Cica lebih suka memanggilnya Bobo ho.

“Aku benar-benar tiada berdaya, ditinggal sebentar dia marah trus nangis, malam-malam denger anak kecil nangis kan pusiiing!” Cica menirukan gaya Peggy. 

            Wajar ajo idak ado pengasuh yang betah, Bobo-ho tu nian banyak kendak!” Lanjut Cica lalu meneguk segelas air putih.

            Jean hanya tersenyum mendengar cerita Cica.  Seusia mereka memang belum sepantasnya disibukkan dengan urusan mengasuh anak yang ribet.  Idealnya ya, belajar saja yang rajin dan mengukir prestasi sebanyak-banyaknya. 

Jean jadi teringat Bayu, bayangan anak itu bermain-main di pelupuk matanya.  Tentu saja untuk hal ini ia amat berbeda dari kedua sahabatnya itu.

                        ***

            Jean baru selesai memandikan Bayu ketika Cica dan Kinanti datang.  Kedua anak itu menunggu di ruang tamu sementara Jean mengambil pakaian Bayu.

            “Tumben sepagi ini udah kelayapan, biasanya kalau libur masih betah di bawah selimut?” Jean menggoda kedua sahabatnya itu sambil membaluri Bayu dengan minyak telon dan bedak baby.

            Kau la cak emak-emak ajo Jean!” Cica tak memperdulikan pertanyaan Jean malah asyik memperhatikan gerakannya.

            Kamu orang tu darimano?” Jean bertanya lagi dengan dialek Bengkulu yang kaku dan sangat lucu terdengar.

            “Tadinya mau ikut senam jantung sehat di lapangan tugu, tapi kesiangan!” jawab Kinanti.

Setiap minggu pagi di lapangan tugu depan kediaman Gubernur memang selalu ada senam jantung sehat yang terbuka untuk umum.

            “Eh, kalau diperhatikan Jean sama Bayu mirip ya?” Tiba-tiba Cica berujar.  Bergantian melihat wajah Jean dan Bayu.  

            “Yaelah Ca, mereka kan memang kakak adik, jelas aja mirip.  Kalau Bayu yang mirip dikau ya itu baru aneh! gimana sih!” Timpal Kinanti. 

 “Bayu lah wangi, siko kek ayuk Kinan!” Kinanti mengambil Bayu dari tangan Jean.  Batita itu terlihat riang ketika ia berpindah tangan.

            “Eh, lucu kali dak? Kalo misalnyo segedang kito la punyo anak?” Kinanti tiba-tiba bertanya dengan polosnya.    

            “Lucu?”  Cica kaget bercampur heran.

            Kinanti terkekeh memamerkan deretan giginya yang yang sedang dikawat. Maklumlah hidup yang “sebatang kara” membuat anak itu lebih menyukai anak kecil ketimbang si bungsu Cica yang lebih sering dibikin pusing keponakan-keponakannya.  Ibu Kinanti hanya bisa menghadirkan dirinya seorang diri ke dunia ini tanpa satupun saudara.    

“Kinan, kalau segedang kito la punyo anak biasonyo accident!”  tambah Cica.

            “Maksud kamu Married by accident alias MBA? Aku gak sepakat ah!” tandas Kinanti cepat.  “Gak semua koq! sepupuku di desa juga nikah muda, tapi tidak MBA, 2 tahun nikah baru punya anak!” Bibir Kinanti maju beberapa senti.

            “Ya, memang tidak semua” jawab Cica cepat. “Contohnya kita bertiga, he..he..!”   

            “Tapi kalau lihat gaya pacaran anak muda sekarang, ya ampun! Horor sekale! Di depan umum aja bisa cuek baybe main kiss en huge! Gimana kalau lagi berduaan!” Kinanti dan Jean tertawa melihat Cica memperaktekkan memeluk dan mencium Bayu.

            “Pantes, pacaran itu gak di legalkan dalam islam, yang punya iman aja bisa runtuh benteng pertahanan dirinya apalagi yang enggak!” Jean buka suara.

            “Cieh! benteng malborough kali! Jean puitis sekalee! Punya pengalaman pribadi ya?” Kinanti melirik genit pada sohibnya itu.  Jean hanya tersenyum tipis.

            “Eh, kalau terlanjur halim perdana kusuma atmaja alias hamil gimana? Apa nikah diperbolehkan?” Kinanti bertanya.                 

            “Iya kalau cowoknya mau bertanggung jawab! Kalau tidak? bisa aja kan dia bilang “Siapa tau bukan cuma gue satu-satunya yang inves ke elo!”  Hayo kalo uda gitu mo gimana lagi? Bisa jungkir balik tu dunia!” Cica semakin bersemangat.

            “Alamat madesu alias masa depan suram coz sekolah terpaksa stop karena hamil, ntar melahirkan tanpa husband, horrible banget kan?!” 

            Tiba-tiba Bayu mulai merengek. Mungkin merasa bosan dengan pembicaraan remaja-remaja yang mulai serius itu dan tak lagi memperdulikannya. Jean mengambil Bayu dari tangan Kinanti.         

            “Setahuku wanita yang sedang hamil dilarang untuk dinikahi sampai ia selesai masa nifas sama!” tambah Cica bak seorang ustadzah.Ngalahin-ngalahin Ibu Rohima guru agama mereka di sekolah. 

            “Kamu koq, cerdas sih?” Kinanti jadi antusias mendengar penjelasan panjang kali lebar Cica. Gak percuma ia punya nekbong seorang kapiten eh kyai. 

 Tapi, terlepas dari alasan apapun Cica benar, wanita memang selalu penerima akibat terbesar dalam soal ini.  Sejenak ketiga remaja itu terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.                        

“Eh, by the way on the way, sebenarnya kita ke sini mo ngajakin kamu ke Curup besok!” tiba-tiba Cica ingat tujuan mereka.

            Ada acara apa?” Jean bertanya.

            “Ada sepupuku yang baru datang dari Pekan baru, dia pengen banget liat bunga raflesia, denger-denger lagi ada yang mekar di Suban dan likuan sembilan, tapi kalau di likuan sembilan sudah mulai layu sedang di Suban baru mekar!” Cica menjelaskan.

            “Nah, berhubung kamu juga orang baru, ikut ya! Sebenarnya masih banyak potensi wisata bumi raflesia yang belum tergali! Cuma karena minus promo aja jadi belum terekspose!” jelas Kinanti.

            “Kinan koq mirip petugas dinas pariwisata ya?” Jean tertawa disusul  keduanya.

            “So?” Cica menunggu jawaban Jean. 

            “Hm, tapi aku harus tanya Mama dulu, minggu ini kerjaannya sedang banyak, kasihan Bayu gak ada yang jaga”   

            “Gak papa Jean, pergi aja! Kebetulan besok tante Mia yang akan kesini!” Tiba-tiba Mama sudah berdiri di belakang mereka sambil membawa nampan berisi 2 gelas teh hangat.

            “Wah tenkyu banget tante, jadi ngerepotin” Cica terkekeh.

            “Iya, tante maksudnya sekalian sarapan juga gak nolak!” timpal Kinanti disusul pecahnya tawa di ruangan itu.

                                                                        ***

            Pembicaraan dengan kedua sahabatnya tadi pagi meninggalkan bekas yang cukup dalam bagi Jean. Luka yang selama ini coba ia keringkan seolah terkuak lagi.  Membaru dan kembali perih. Hampir dua tahun sudah kejadian itu.  Selama itu pula telah ia lunaskan dengan penginsyafan yang keras dan sungguh-sungguh.

            Penyesalan memang selalu datang terlambat, semua baru kita sadari ketika kita telah kehilangan. Dan kepergian Papa untuk selamanya seakan memutasikannya dari mimpi buruk ke mimpi buruk lainnya.  Meninggalkan sayatan yang terlampau perih.

            Ia tak mau Papa tersiksa di alam sana. Ia mau Papa tenang.  Meski ia hanya bisa menghadiahi dengan untaian doa panjang disetiap akhir sholatnya.  Bukankah hanya doa anak yang solehlah yang akan menolong orang tuanya ketika mereka telah tiada?

            Jean menuntaskan dengan membaca tilawah yang tersendat-sendat oleh isakan tangis.  Diraihnya foto yang tergelatak di sudut meja belajar.  “Maafkan Jean, Papa! Jean akan buktikan kalau Jean bersungguh-sungguh!”

            Tiba-tiba terdengar suara Bayu menangis.  Buru-buru Jean keluar menuju kamar Mama dimana Bayu biasa tidur.     

                                                                        ***

            Bayu demam, berarti ia tak akan jadi menemani Cica dan Kinanti ke kota dingin Curup hari ini.  Tadi ia sudah menghubungi Cica. Biarlah, toh mereka tetap akan bergembira meski tanpa kehadirannya.  Tapi Mama, tanpanya beliau akan kerepotan.  Dan ia pun tak akan sanggup meninggalkan Bayu dalam kondisi seperti ini. 

            Jean mengganti kompres Bayu.  Berkali-kali ia menciumi wajah tak berdosa itu.  Tak terasa butiran bening mulai mengalir deras bagai anak sungai.  Kata-kata Cica kembali terngiang di gendang telinganya, “Dalam hal ini wanitalah yang yang paling menderita”.  Benarkah ia yang menderita? Ataukah bocah ini?

            Bayangan kejadian dua tahun lewat seakan dilihatnya kembali dari dua mata bening yang saat ini terkatup.  Kala itu ia dan teman-teman mengadakan pesta kenaikan kelas di sebuah cafe hingga larut. 

Menegak minuman yang bukan hanya membuat hilang kesadaran untuk sementara waktu tapi lebih dari itu ia telah kehilangan kehormatan selamanya yang direnggut Freddy pacarnya sendiri.  Masa-masa remaja yang indah dan penuh warna lesap dalam sekejap.

Sedangkan Freddy, laki-laki yang telah menanam benih di rahimnya itu telah kabur sebelum ia sempat meminta pertanggung jawaban. Laki-laki itu telah mencap noda hitam abadi yang harus ia tanggung sendiri.

            Sepeninggal Papa mereka memutuskan untuk pindah ke Lampung kota kelahiran Mama.  Wanita yang sabar itu, terus membimbing agar dapat mengembalikan kepercayaan Jean untuk bangkit meski itu pahit.

Pertentangan batin itu berujung pula ketika ia beberapa kali dipertemukan dengan seorang yang bernama mbak Rianti di sebuah rumah sakit.     Hal yang membuat Jean tak menyangka ketika mbak Rianti pernah begitu jujur menceritakan masa kelamnya.  Entah dengan maksud apa.  Sampai pada kisah bahwa wanita itu juga pernah beberapa kali menggugurkan kandungannya. 

Masa muda dan cita-cita yang masih panjang selalu menjadi alasan untuk mengindari lembaga pernikahan. Meskipun ia dan kekasihnya telah bertahun-tahun hidup serumah.  Walaupun pada akhirnya mereka memang menikah. Harta berlimpah dan materi yang ada ternyata tidaklah cukup.  Ada saat dimana kesepian mulai memasuki fase rumah tangga mereka.   Saat sunyi mulai rindukan gelak tawa dan jerit tangis seorang bocah.                                                 

Namun sayang, hingga diusia kesepuluh pernikahan mereka  Allah masih belum memberikan mereka satu orang pun buah hati.  Mungkinkah itu refleksi dari perbuatan sia-sia yang pernah mereka lakukan dulu?

            Tiba-tiba Jean merasa diantara himpitan kesalahan yang pernah ia buat ada sebulir kekuatan untuk mempertahankan janinnya.  Menghentikan usaha untuk menggugurkan kandungannya.  Meski untuk itu ia harus mengorbankan semuanya, termasuk masa remaja dan harus melahirkan anak tanpa suami.                         

Ya! Bocah mungil dan lucu bernama Bayu yang selama ini dianggap kedua sahabatnya sebagai adiknya sesungguhnya adalah anaknya! Anak  yang terlahir dari rahim remajanya.  Anaknya dengan laki-laki bernama Freddy. 

Setahun setelah kelahiran Bayu mereka akhirnya memutuskan hijrah ke Bengkulu.  Mama mendapat tawaran dari tante Mia untuk membantu mengurus usaha ternak puyuh.  Dan Jean sendiri memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya. 

                                                ***

            “Jean, kamu di rumah kan?”  suara Kinanti terdengar jelas di ujung telpon ponselnya.

            “Iya Kin, tapi sekarang lagi bersiap ke rumah sakit!” Suara Jean parau. Semalamam demam Bayu turun naik. Menurut dokter, Bayu harus segera diopname.

            “Bayu?” kali ini suara Cica. 

            “Iya Ca, demamnya makin tinggi!” terdengar nada cemas disana.

            “Innanilahi! Ya udah, kamu tunggu aja, biar kita antar.  Kami sudah Kembang seri!” Cica menyebutkan nama daerah yang telah masuk wilayah Bengkulu utara. Gadis itu mempercepat laju mobil.                

                                                                        ***

            “Udah siap?” Cica langsung masuk. 

            Jean mengangguk lemah, “Tinggal tunggu Mama yang sedang menyiapkan surat menyurat” sesekali ia menepuk-nepuk pantat Bayu yang rewel.  Wajah ibu remaja itu pucat sekali. 

            Kinanti meletakkan sesisir pisang Curup dan sekantong marning di atas meja makan oleh-oleh dari bumi Pat Petulai.  Setelah itu mereka melangkah keluar.

            “Sepupumu mana?” Jean kembali bertanya.

            “Tidur di mobil, dari tadi dia yang nyetir, kecapek’an kali! Nekat juga tu anak dari Pekan baru bawa mobil sendiri!” Cica mengambil alih satu tas yang dijinjing Cica.

            Jean hanya menarik nafas dalam.  Menatap kaki-kaki mungil Bayu yang digendongan Mama.  Kaki kanannya tumbuh lebih kecil dari kaki kirinya. Mungkin itu akibat dari usaha untuk mengugurkannya dulu.  Jean semakin terjerat penyesalan.

            Mereka berjalan semakin mendekati kijang kapsul milik Cica yang diparkir di mulut gang.  Dari kejauhan terlihat sesosok laki-laki muda tengan terlelap dengan posisi menyandar di samping kursi supir.

            Begitu lelap, hingga suara hentakan pintu mobil pun tak membangunkannya.  Cica kemudian membawa mobil menuju selatan kota menembus matahari sore di bumi raflesia.  Sementara Jean begitu resah  dengan pikirannya. 

            Darahnya tiba-tiba berdesir hebat! Degup jantung yang tak kuasa ia tahan seperti akan membobol dadanya.  Ya Allah! jika matanya tak salah,  ia begitu mengenali laki-laki yang tertidur di samping Cica saat itu.   Meskipun ia dalam posisi membelakangi. Justru dengan posisi itu ia dapat melihat dengan jelas sebuah tanda!

            Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk dapat melupakan tahi lalat di tengkuk itu.  Jean begitu hafal.  Wajah Jean semakin pias ketika laki-laki itu membalikkan badannya dan menatap Jean lewat kaca depan.

            “Jjjjean??!!”  Ia menoleh secepat kilat.

            “Kau? Freddy??!!”  setelah itu Jean tak sadarkan diri.  Tubuhnya lunglai rebah di bahu  kanan Kinanti seiring dengan pecahnya tangis Bayu.

 

                                                                                    Bumi Raflesia 260605

Dedicated for everybody I’ve known 

 

 

 

Foot notes :

Kelak                             : Nanti(bahasa Bengkulu kota)

Banyak kendak             : Banyak maunya

Cak                                : Mirip, serupa (bahasa Bengkulu kota)

Segedang                       : Sebesar (bahasa Bengkulu kota)

Nekbong                        : Kakek

Tun-jang                      :Keturunan Rejang, orang Rejang, pada umumnya berkulit    putih bersih, bermata sipit.  Seperti orang cina.

Suban                            : Salah satu objek wisata Air terjun air panas yang ada di kota Curup.

Likuan sembilan        : Nama tempat yang sering di lewati kendaraan umum jika akan

keluar propinsi.

Marning                      :Jagung kering asin

Pat petulai                  : Semboyan suku Rejang yang berarti Empat Marga Bersatu.

 

 

 

 

 

 Biodata Penulis

 

Sisk@ Rusm@n:

Pemilik nama lengkap Fransiska ini lahir di kota sejarah nan elok, Pagar Alam Sumatra selatan pada tanggal 25 Maret 1978.  Terlahir dari pasangan Drs. Rusman.S dan Harminingsih sebagai sulung dari 3 orang  “Pejantan tangguh”. 

 Menjelang usia 2 tahun Siska kecil diboyong hijrah ke bumi Raflesia. Menamatkan pendidikan dari TK-Kuliah di Bengkulu.  Menyukai dunia tulis menulis semenjak kecil dengan rajinnya menulis catatan harianJ 

Pernah menjadi pengurus bulletin “In touch” ketika ia masih berstatus mahasiswa FKIP Bahasa Inggris.  Persinggungannya dengan komunitas kepenuliasan FLP tahun 2001 lalu membuat Ghiroh baru dan berniat menjadi “penulis”.

Namun alasan prioritas dan fasilitas sempat membuatnya mandek.  Baru beberapa tahun belakangan ini ia mulai mencoba mengembalikan niat awalnya. 2 cerpennya “UCIL” dan “Fara’s Idol” sempat numpang nampang di 2 media lokal.

Baginya kedua karya kecil tersebut belumlah ada apa-apanya. Tapi cukup memotivasinya untuk terus berkarya. Berharap lewat tulisan ia ikut mewarnai seni fiksi yang mengusung nilai kebaikan dan kebajikan.

Alumni Universitas Bengkulu ini sekarang bekerja sebagai staff pengajar di SMK Negeri 3 Bengkulu dan aktif sebagai pengurus FLP wilayah Bengkulu pada divisi Penerbitan.

Saran kritik bisa di kirim ke Siska_rusman@mailcity.com


Posted at Friday, July 01, 2005 by flpbengkulu

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry
Assalamualaikum. Makasih udah sudi bertandang. Kalo mau ikutan ngisi kirim naskah via : lingkarpenaraflesia@yahoo.com
Kita mau muker neeh...!
Buat seluruh pengurus FLP Bengkulu : Kita mau mukerwil neh. Ayo semangat! Katanya mau ngundang pengurus pusat. Kudu serius nehh. jangan sampai kayak kasus Mbak HTR yang dibuku MTPS itu. Asli, gak boleh terulang lagi! Mari kita dukung Mas Liber sebagai ketua panitia. Semoga sukses!
Jumlah pengunjung:


Tinggalkan Jejak!
Plis deh ach...
buat anda yang sudah berkunjung ke sini, tolong tinggalkan jejak dengan mengisi buku tamu, atau paling tidak ngamen (ngasih komen) dikit di tag board. senang deh, kalau ada yang mau nyumbang saran.

Lihatlah Profil FLP Bengkulu sekarang. Klik di sini aja deh...
Tetangga-tetanga kita...
   

<< July 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


Bengkulu Siap Jadi Tuan Rumah Upgrading Penulis FLP Se-Sumatera
Wah, kayak sok kepedean, ya? Tapi benaran lho, kami dari pengurus plus anggota FLP Bengkulu InsyaAllah siap untuk jadi pelaksana acara Upgrading penulis FLP Se-Sumatera. Sekarang lagi persiapan-persiapan neeh. Doain moga lancara ya...
Profil Elzamzami
'
'

Click here to join lingkarpena_sumbagselplus
Click to join lingkarpena_sumbagselplus



STUKTUR PENGURUS FLP WILAYAH BENGKULU PERIODE 2003-2005
Penasehat : 1. M. Syamlan LC 2. Sri Erliana, S.Pd 3. Herman Suryadi (Guru SDN 1/ penulis cerita anak) 4. drh. Agnes A. Majestika (penulis cerpen)
Ketua : Sri Rahayu Sekretaris : Meitin Yuniar Bendahara : Fatma
Divisi Kaderisasi : 1] Feriyansyah 2] Lipranto
Divisi Fiksi 1] Endang Sri Wulandari A 2] Elzam Zami 3] Idrus M
Divisi Non Fiksi 1] Mildaini 2] Rahmi
Divisi Jurnalistik & Media 1] Beni Adismal 2] Yahumri 3] Agusmantono
Divisi Dana dan Usaha 1] Freni Destama 2] Supriadi M. Liber

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed